Senin, 09 Januari 2012

Chapter 6

Chapter 6

Frey masih jetlag ketika pertama kali mendaratkan kakinya di bandara Tambolaka Sumba Barat Daya.  Sangat amat berbeda jauh dengan bandara besar atau bandara sekelas Bali, Solo maupun Yogyakarta.  Mulut Frey hampir terbuka sempurna ketika pesawat kecil telah mendarat dan dia harus berjalan di tengah teriknya Sumba menuju ruang tunggu yang hanya berukuran 5x5 meter, tanpa loket bagasi seperti bandara pada umumnya dan pastinya tanpa kenyamanan.  Hanya beberapa kursi panjang tempat Frey dapat sekadar menjatuhkan pantat kami sejenak.  Bagasi Frey masih belum datang dan dia pun harus menarik napas lagi karena bagasi ternyata diletakkan dalam kereta penarik bagasi yang fungsinya sama seperti kereta pemindah bagasi ke pesawat.  Penumpang memang wajib mengambil sendiri bagasinya, tanpa troli dan dengan melewati sedikit jalan yang tidak rata. Sangat tidak nyaman karena porter pengangkut barang pun tidak ada.  Luar biasa, ini melebih Eropa untuk self service nya.  Bagi yang membawa barang super banyak pun harus rela menahan emosi sekaligus melatih kesabaran.  Sama seperti Frey yang terpaksa menarik satu koper dengan menjinjing satu tas sementara di punggung sudah menempel satu tas punggung dan di depan sudah menghias gitar kesayangannya.   Sempurna, gaya yang sangat sempurna untuk orang yang kelelahan membawa semua barangnya sendiri.  Bagaimana repotnya membawa keluar barang ini dari bandara super minim faslitas ini? tidak perlu ditanya yang pasti membuat Frey frustasi.  Minta tolong orang lain pun mereka sama sulitnya dengan Frey.  Jarang terlihat wajah tersenyum saat membawa barang beraneka rupa itu.  Meminta tolong para penjemput kita pun tak boleh karena daerah di dalam bandara tidak boleh dimasuki orang lain padahal jelas sekali dari dalam ruang tunggu kita dapat melihat para penjemput kita bergerombol di pintu kayu dengan sedikit kaca putih.

Untungnya saja tidak butuh lama hingga berjam-jam walau bila sedang sial boleh jadi barang anda boleh jadi tidak terbawa dalam bagasi.  Tidak perlu kaget atau marah-marah karena memang beban muatan pesawat kecil ini terkadang tidak dapat membawa semua barang dari bandara transit Bali dengan sempurna.  Cukup bersantai saja dan tetap simpan nomer bagasi barang karena barang itu akan datang dengan pesawat berikutnya, yang sudah tentu di hari lain tergantung ada atau tidaknya penerbangan.Arggg…..Frey berusaha tetap senyum.  Terbayang pasti Arjuna akan tertawa hingga berguling di tanah bila mendengar kisahnya dengan gitar tua kesayangannya.  Ah, Frey malah tersenyum sendiri membayangkan bebannya membawa ini semua akan berkurang jika Arjuna menemaninya hingga di sini.

Tatapan Frey atas kota yang baru pertama kali dilihatnya ini pun masih nanar.  Jika ini yang disebut kota maka Frey tidak dapat membayangkan betapa lebih merananya pedalaman yang nantinya disebut desa.  Segera dinyalakannya telepon genggam dan benar saja hanya satu operator yang dapat menjangkau pelosok ini.  Itupun dengan sinyal setengah mati.

“Jun…” Frey langsung menekan nomer sahabatnya itu namun segera dimatikan ketika yang terdengar suara asing berbahasa asing.  Jelas saja suara itu bukan bahasa beda negara namun terasa seperti dialek orang-orang yang sekarang lalu lalang di sekitarnya.

“Kok salah sambung begini” Frey mendengus kesal

“Sudah biasa ibu dokter.  Selamat datang di Sumba.  Jangan kaget kalau ibu tekan nomer suami dan ternyata yang angkat wanita.  Gangguan sinyal bikin banyak tabrakan di udara sana” terdengar suara lelaki setengah baya yang mengemudikan mobil.

Ah, rasanya terlalu banyak yang ingin dia katakan namun terbungkam oleh lelah.  Beruntung dia masih berada di kota dan berharap kasur yang embuk pun akan mengembalikan kesadarannya.   Hari pertama kedatangan tim penelitian memang diberikan kelonggaran mengembalikan stamina. 

Kesokan harinya, barulah pemandangan lebih unik dijalani oleh Frey bersama timnya.  Beberapa di antara tim ada yang sudah sering bolak balik ke pelosok ini namun beberapa masih baru seperti Frey.  Mobil meluncur menuju desa tempat Frey akan bertugas nantinya.  Selama 15 menit pertama Frey masih disuguhkan pemandangan kota dengan rumah yang berdekatan dan beberapa di antaranya sudah berdindingdinkan batu bata.   Semakin menjauhi kota, Frey disadarkan dengan jalanan yang makin lenggang disertai kanan kiri variasi antara jurang dan hutan kayu.

Frey melihat kaki kecil itu berlarian menuju sekolah dengan halaman luas tanpa alas yang layak seperti sepatu anak-anak sekolahan di Jakarta.  Beruntung baju mereka masih terlihat putih mulus, Frey bepikir mungkin karena ini tahun ajaran baru untuk anak kelas satu sehingga beberapa baju sekolah masih terlihat putih.  Berbeda dengan beberapa sekolah yang masih dekat dengan kota, semakin menjauhi kota, anak-anak itu berlarian hanya dengan satu buku tulis di tangan. Tampak riang sekali mereka menikmati hadirnya ilmu walau tas seharusnya lebih layak untuk mereka gunakan. Om Modo, supir sekaligus penduduk asli Sumba menjelaskan kepada Frey bahwa anak-anak itu harus berjalan dulu minimal setengah jam tuk sampai di sekolahan terdekat.  Tenggorakan Frey tercekat, rasanya cerita ini sekarang menjadi begitu nyata untuknya.  Mereka anak Indonesia, bagian dari diri Frey yang tidak pernah Frey sadari keberadaannya. Mereka, semangat mereka, membuat ada rasa sesak dalam dada Frey. Mereka bagian dari bangsa Frey, Indonesia.

Frey melewati 6 sekolah dasar dari kota hingga masuk ke dalam desa tempatnya bertugas. Setiap sekolahan tersebut jaraknya sekitaran 20 kilometer dari sekolahan sebelumnya.  Ada beberapa anak yang Frey lihat naik kuda kecil mereka menuju sekolahan walupun jumlahnya tidak banyak.

Tidak terasa sudah dua jam perjalanan dan mobil mulai perlahan memasuki desa.  Frey berharap bahwa keberadan desanya di pinggir jalan utama agar masih dapat listrik sebagaimana tiang listrik berdiri kokoh namun Frey salah.  Beberapa lekukan jalan kecil masih harus Frey tempuh hingga setenggah jam dari bibir jalan utama barulah terlihat jelas desanya.  Tidak jauh bebeda dengan sebagian desa yang ada di Sumba Barat Daya, hampir sebagian penduduk di desa masih tinggal dalam rumah adat. Bangunan beratapkan setengah lingkaran yang terbuat dari kumpulan rumput alang-alang yang disatukan dengan tembok kayu dan alang yang bila beruntung dapat berubah menjadi tembok anyaman bambu.  Namun sebagian kurang beruntung sehingga bangunan asli tersebut lebih mirip dengan gubuk seperti di sawah Jawa namun ukurannya lebih besar sekitar 5x6 meter. Atap yang khas membuat rumah asli penduduk Sumba ini disebut sebagai rumah alang.

Frey berada di depan rumah yang nantinya akan menjadi tempatnya melayani masyarakat sekitar. Maklum, walau desa Frey ini dekat dengan Puskesmas namun tetap saja dekat menurut ukuran penduduk desa adalah satu jam berjalan kaki. Frey menarik napas panjang, tidak ada kasur empuk, listrik terang benderang, kompos gas mewah, pendingin ruangan, dan berada di daerah malaria dengan penduduk asli yang sebagian besar tidak menggunakan bahasa Indonesia. Ini sama seperti pengalaman sahabatnya yang mengabdikan dirinya sebagai dokter tidak tetap di tempat terpencil hanya saja sepertinya mereka lebih beruntung ditempatkan di puskesmas dengan cadangan listrik atau sekadar genset sebagai alat penerang utama. Ah, tapi Frey sudah memutuskan untuk melangkah ke pedalaman ini yang artinya ada tiada apapun harus dijalani.

Bagunan Polindes  sebagai sub di bawah Puskesmas yang akan ditempatinya tersebut menjadi bangunan dinding batu yang kontras dengan rumah alang milik penduduk sekitar.  Frey memasuki bangunan yang cat temboknya sudah tidak berwarna putih lagi tersebut.  Memeriksa setiap ruangan dan dirinya miris, ini benar-benar akan menjadi tempat tinggalnya nanti.  Di samping bangunannya tampak rumah sederhana berdindingkan triplek yang akan digunakan untuk tempat tim peneliti lainnya.  Frey  tidak yakin tipisnya dinding itu dapat menangkal dinginnya malam. Sementara matanya tidak lepas dari setiap detil ruangan yang dimasukinya.  Tempat yang akan menjadi klinik ini terdiri dari satu ruangan pemeriksaan, ruangan perawatan yang lebih mirip dengan gudang, satu ruang tidur perawat dan satu ruangan penyimpanan obat yang Frey anggap memang gudang.  Sisanya dua kamar mandi yang sangat tidak terawat lantaran memang tidak ada airnya.   Frey boleh memilih salah satu ruangan yang nantinya akan digunakan sebagai kamar pribadi walau sebenarnya tidak ada pilihan ruangan selain memperbaiki ruang perawatan.  Di kamar itulah nantinya Frey akan menjalani sisa harinya yang masih belum dimulai.

Hari-hari berikutnya merupakan perjuangan baru.  Frey akan tinggal bersama perawat yang memang asli penduduk di sana dan tentunya mengerti bahasa setempat.  Membersihkan ruangan yang akan menjadi kamar tidurnya ternyata menguras banyak tenaga.  Ruangan yang lama tidak pernah dihuni tersebut sangat berdebu dan ditinggali laba-laba raksasa di setiap ujungnya.  Ruangan yang hanya berukuran 3 x 3 meter tersebut harus Frey sulap menjadi kamar walau hanya sebuah tempat tidur dan lemari saja yang nantinya menemani Frey.

Frey berharap kasur busa masih akan menemani tidur malamnya tetapi hanya kasur dengan sumpalan kapas yang dijahit kasar saja yang menemaninya, bertengger indah pada tempat tidur yang terbuat dari bambu.  Seminggu pertama Frey selalu saja terbangun tengah malam karena merasa ada yang mengganjal di punggungnya.  Frey akan terus bertahan, hanya butuh dua minggu saja melewati semua awalan ini dan setelahnya dia pasti sudah terbiasa.

***

Chapter 5

                                                                  Chapter 5

Frey meletakkan gitar kesayangannya dengan hati-hati di kabin pesawat.  Dia rela barang lainnya masuk dalam bagasi asalkan ransel dan gitar kesayangannya selamat. Gitar akustik pertama yang dibelinya saat SMA itu memang menjadi gitar kesayangan dibandingkan gitar lainnya yang ada di rumah sebagai koleksian mamanya. Terkadang Frey berpikir kalau dirinya salah ditakdirkan menjadi dokter karena memang satu-satunya yang dia suka hanya pelajaran musik dan Bahasa Indonesia.  Matematika dan pelajaran IPA terpaksa disukainya hanya karena papanya dokter.  Nyatanya dari keterpaksaan itu Frey malah berhasil menjadi delegasi mewakili negaranya di olimpiade sains mewakili cabang biologi.  Hal yang aneh menurut Frey.  Banyak saingannya yang lebih menyukai biologi dan belajar mati-matian demi menjadi yang terbaik tapi Frey yang terpaksa menyukai biologi malah yang terpilih.
Deru mesin pesawat masih terdengar jelas. Walau sudah berulang kali terbang tetap saja Frey menyukai deru mesin saat pertama kali pesawat dinyalakan. Selalu saja Frey memilih kursi di dekat jendela.  Dia rela antri pertama di ruangan check in agar dapat leluasa memilih tempat duduk dekat jendela bahkan jika akhirnya dia tidak berhasil, dia akan berusaha bertukar tempat dengan siapa pun di pesawat nantinya. Dengan alasan apa pun, dan Frey selalu berhasil mendapatkan pemandangan dari jendela tersebut.
Dari seluruh proses melajunya pesawat, Frey paling suka adegan saat pesawat merangkak naik.  Frey dapat merasakan tubuhnya akan terdorong ke belakang dengan sendirinya walaupun sebenarnya secara fisika efek posisi Frey tidak ada yang berubah.  Merangkaknya pesawat ini terasa seperti tangan ingin menggapai sesuatu namun belum diijinkan sampai hingga akhirnya pesawat berada pada posisi stabil, tidak merangkak naik lagi. 
“Ini namanya hukum gaya fisika Frey.  Saat kamu menanjak, rasanya berat namun cita-cita itu selalu di depan mata dan tanpa terasa tanjakan itu berubah menjadi jalan lurus.  Bukankah kamu dapat dengan mudah mendapatkan apa yang kamu mau setelah berusaha keras terlebih dahulu” kalimat itu tiba-tiba terngiang setiap kali Frey memejamkan mata menikmati pesawat yang menanjak ini.  Kalimat itu membuat Frey lebih tenang ketika harus berpergian jauh tanpa pendamping. Reza dengan kecerdasan yang luar biasa adalah orang pertama yang mengatakan filsafat tanjakan pesawat kepada Frey. 
Saat itu keduanya mewakili Indonesia untuk mengikuti olimpiade sains di Singapura.  Mungkin Tuhan mempertemukan simpul-simpul benang merah itu melalui Reza. Andai Frey tahu dia akan bertemu Reza, dia bahkan rela seperti orang lain yang mati-matian belajar Biologi agar berhasil ke tingkat internasional bersama Reza.  Tapi Frey sudah mendapatkan itu tanpa harus benar-benar mencintai Biologi.
Frey ingat itu perjalanan luar negeri pertamanya tanpa mama papa walaupun Frey tahu boleh saja membawa orang tua dalam perlombaan bergengsi tersebut. Namun, kebanyakan delegasi lainnya tidak melakukan hal tersebut sehingga Frey memilih hal yang sama juga. Frey juga masih ingat kalau itu pertama kalinya Reza naik pesawat namun Frey heran dia sudah dapat berfalsafah sangat dalam. Reza mewakili bidang fisika dan berhasil meraih emas karena kecemerlangan otaknya. Frey tahu Reza pasti berhasil sejak pertama kali dia bertemu dengan Reza ketika mereka dikarantina selama dua bulan di Jakarta.
Selanjutnya, Frey benar-benar jatuh cinta pada Reza dan kebersamaan mereka yang sekejap membuat keduanya benar-benar kasmaran.  Setahun menjalani hubungan long distance di dua negara berbeda lantaran Reza memilih melanjutkan kuliahnya di Singapura sementara Frey menggeluti dunia kedokteran. Sesekali Frey yang ke Singapura menemui Reza dan tahun pertama Reza mudik ke Indonesia dua kali hanya karena rindunya pada Frey tidak dapat dibendung.  Memasuki tahun kedua, email Frey tidak lagi pernah dibalas oleh Reza. Hubungan keduanya perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang.  Frey nyaris pergi ke Singapura lagi untuk mencari tahu kabar Reza andai saja tugas kedokterannya tidak semakin membuatnya gila. Reza benar-benar menghilang tanpa kabar dan menyisakan tanda tanya besar di kepala Frey.

***

“Frey…lo gak bisa penasaran kayak gini terus ama ending cinta pertama lo.  Mau ampe kapan lo terus nginget dia sementara lo sendiri gak tau apa Reza masih inget lo apa gak” Frey terkejut, kisah tujuh tahun silam tampak seperti baru saja terjadi. Suara Nadia sahabatnya terdengar jelas sekali.
“Kalo lo penasaran, hayoh gw temenin lo nyari dia. Bahkan ampe Singapura juga hayoh asal setelahnya lo gak terbayangi terus. Lama-lama kalau lo berhalusinasi bisa repot gw. Lebih susah nyembuhin dokter yang gila tahu” Frey tahu dari awal Nadia memang bercita-cita menjadi psikiater tapi Frey tidak mau jadi pasien gila pertama yang nanti dirawat oleh sahabatnya itu.
Cinta pertamanya dengan Reza memang belum usai. Mereka berdua berpisah tanpa sebab yang jelas bahkan tanpa mereka sadari. Hanya saja Frey masih ingat jelas mimpi tertinggi Reza menjadi ahli fisika bahkan kegemarannya tentang bacaan nuklir membuat Frey bergidik ngeri.  Secara perhitungan tahun boleh jadi sosok lelaki penuh pesona itu sudah menggondol gelar professor.  Bukan hal yang tidak mungkin karena setahu Frey Singapura mempunyai kerja sama dengan beberapa negara tertentu sehingga lulusan S1 dapat meloncat lanjut langsung ke S3.
“Gw gak mau!!! Biar Reza yang nyari gw!!!” Frey juga ingat perkataannya tersebut sebelum sahabatnya memutuskan melanjutkan pendidikan spesialis kedokteran jiwa sementara Frey masih menikmati karirnya di rumah sakit.  Bukan hal yang sulit sebenarnya jika Frey memang ingin mencari keberadaan Reza. Toh ketika mereka menjalani long distance selama setahun, dua kali Frey yang kabur ke Singapura untuk menemui Reza melepas rindu.  Walau setelahnya Reza menghilang dan Frey semakin tenggelam dalam kesibukannya.
Email yang biasanya rutin dibalas Reza sudah tidak lagi menunjukkan keberadaan Reza. Bahkan nomer telepon pun tidak ada satu pun yang dapat dihubungi. Lenyap tanpa jejak menyisakan tanda tanya besar di kepala Frey, apa yang salah? Hingga akhirnya tujuh tahun berlalu masih saja tidak ada kabar walaupun Frey masih rutin mengirimkan ucapan selamat ke email di setiap hari kelahiran Reza. Tidak pernah ada balasan seperti terakhir Reza menghilang.
Rasa penasaran masih membelenggu Frey sehingga dia tetap rajin mengetikkan nama dan hal-hal yang disukai Reza di mesin pencari canggih internet. Berharap ada simpul-simpul benang merah yang menghubungkannya kembali dengan Reza namun gagal. Hal ini membuat Frey merasa sangat janggal karena berdasarkan analisisnya seharusnya mudah menemukan nama Reza karena pastinya dia sudah menjadi ilmuwan dan namanya akan mudah ditemukan di mesin pencari.  Kenyataannya tidak dan membuat Frey berpikiran jika Reza mengubah nama atau kewarganegaraannya tapi toh tetap saja tidak dapat dilacak. 
Rasa penasaran itu membunuh hati Frey perlahan.  Dia masih menunggu kedatangan Reza mengetuk kembali hatinya.  Entahlah, sulit baginya menemukan sosok Reza lainnya walaupun Frey bertemu dengan banyak lelaki setelah Reza. Dari sekian banyak, hanya Arjuna yang mendekati kemiripan sosok Reza sehingga membuat Frey lebih cepat dekat dengan Arjuna namun Frey menyadari dia hanya menjadikan Arjuna pelarian dari pencariannya kepada Reza selama ini.  Bahkan mencintai Arjuna pun terasa sulit jika tidak mengaitkan dirinya dengan Reza.
“Arjuna bukan Reza, Frey. Dia Arjuna dan dengan caranya dia mencintai lo. Kalau memang lo gak bisa lupain Reza, jangan jadikan orang lain pelarian lo dalam mencintai. Itu hanya akan menyakitinya semakin dalam” ucapan Nadia membuat Frey terdiam. Setelahnya, Frey memutuskan untuk menjadikan Arjuna sekadar sahabat agar tidak menyakitinya terlalu dalam.
***

Tidak terasa pesawat sudah berada di atas angkasa sekarang.  Awan biru yang membentang sudah mulai bergulatan di samping kanan kiri Frey.  Rasanya seperti taburan kapas raksasa yang menaungi bumi, begitu empuk kukira. Tapi cinta pertama Frey yang ahli fisika bilang bahwa awan itu hanya kumpulan gas yang artinya sama sekali tidak empuk bahkan tidak dapat dipegang sekalipun.  Frey tertawa.  Caranya menjelaskan hal tersebut seperti bapak guru menjelaskan ke anak TK.  Tentu saja Frey sudah tahu tentang hal itu tanpa dia jelaskan sekali pun.
“Kenapa tertawa?”
“Iya bapak guru…aku inginnya bapak guru bikin cairan ajaib biar awan itu benar-benar berubah menjadi em…puk” Frey menekankan kata terakhirnya dan melihat wajah lelaki disampingnya seperti berpikir keras.
“Kamu benar-benar aneh Frey.  Ini request teraneh dalam hidupku”
“So…u gotta do it for me right”
“Hmmm….rasanya gak mungkin deh menciptaka cairan ajaib untuk mengubah semua awan itu”
“Okey…bagaimana kalau hanya awan yang itu saja…Look” Frey menunjuk satu buah gumpalan awan putih yang terlihat sangat halus, ukurannya tidak begitu besar, hanya muat dua orang dewasa saja bila ingin naik di atas awan itu.  Ujungnya bergerinjal halus seperti lekukan indah ombak tengah laut.  Melihatnya sekilas membuat Frey teringat akan awan Goku dari kisah kartun masa kecilnya, Dragon Ball. 
Reza menyondongkan badannya, mengikuti arah jariku pada awan temuan Frey. Dagunya masih saja sama, tidak pernah rapi kalau bercukur.  Rasanya ingin sesekali Frey merapikan hasil cukurannya itu.  Untung saja Reza tidak pernah memelihara kumis karena Frey paling tidak suka lelaki berkumis.  Tapi jujur Frey suka potongan rambutnya kali ini.  Ah sial, Frey sudah tidak memperdulikan awan itu lagi sekarang.
“Frey…kok nglamun” sial, Reza memergoki ketika Frey memandang wajahnya.
“Eh…siapa juga yang nglamun” Frey salah tingkah
“Terpesona ama potongan rambut baruku ya”
“Yeee…GR” Frey mencubit lengannya dan dia hanya meringis pura-pura kesakitan.
“Ato malah terpikat ama kegantenganku yang mirip Tom Cruise” Frey terbahak, kali ini seperti tertawa bebas yang bila dibiarkan terus maka pramugari dapat mengusir kami berdua dari kursi ini.  Kalimat itu selalu saja diucapkan Reza namun Frey tidak pernah bosan mendengar leluconnya yang satu itu.  Memang tidak mirip dengan Tom Cruise tapi dengan postur tubuhnya yang meninggi hingga 170 cm dan rambut sedikit pirang, Reza memang lebih terlihat seperti orang Eropa dibandingkan orang Asia.  Yah, tentu saja karena dia memang keturunan Jawa-Belanda.
“Trus…?” Reza sepertinya masih penasaran dengan jawaban Frey.
“Hmmm…kamu itu udah gedhe tapi gak pernah rapi kalau nyukur jenggot…” Frey memegang dagu Reza, menunjukkan beberapa rambut tipis di dagunya.
“Pengennya sih ada yang ngerapin” Reza memegang tangan Frey dan kali ini gantiian Frey yang mati kutu apalagi tatapan mata Reza sudah tidak dapat dihindari lagi.  Mata mereka beradu lama seperti ada ribuan kata yang ingin diungkapkan namun hanya tersendat di tenggorokan saja. Dan Frey tidak pernah menduga itu perjalanan terakhir mereka sebelum berpisah.
***

Chapter 4

                                                                 Chapter 4

Frey memasukkan persiapan terakhirnya ke dalam tas ransel yang sebelumnya sudah berisi seluruh peralatan cangih yang dimilikinya.  Walau sudah dari awal dijelaskan kondisinya yang akan hidup dalam keterbatasan termasuk listrik dan air, tetap saja Frey tidak dapat berpisah dengan seluruh barang elektroniknya.  Frey bahkan rela membeli banyak baterai cadangan untuk telepon gengaamnya,ipad bahkan radio bututnya yang masih menggunakan baterai besar.
Satu koper ukuran sedang, satu tas jinjing, dan satu tas ransel memenuhi semua tangan Frey bahkan di punggungnya masih tergantung gitar kesayangannya.
“Busyet Frey…gak sekalian aja lo bawa piano ke sana tuh” Frey masih ingat saat Arjuna nyaris tidak dapat menahan tawanya melihat dia mempersiapkan segala keperluannya.
“Eit…ini belum seberapa Jun.  Dua kardus besar gw udah duluan dibawa ke sana ama tim logistik.  Isinya makanan ama buku, Full!”
“Serius lo…mau buka warung ya Frey di sana” Arjuna tertawa semakin terbahak.
“Kan biar bisa bikin mie nyemek Pelangi Jun. Lagian yang gw bawa yang memang gak ada di sana kok. Spageti, rolade, sarden, brownies…” Frey menyebutkan semua makanan kesukaannya dan Arjuna hanya melongo sembari menahan mulutnya dengan kedua tangan supaya tidak tertawa terbahak lagi, tapi gagal.
“Ya ampuuunnn Freeeyyy…katanya lo siap hidup di pedalaman. Bekal yang lo bawa ini malah nunjukin kalo lo bakal gak siap hidup menderita disana” dalam keterbahakannya Arjuna masih sempat menjawil hidung Frey.
“Ralat ya Jun. Gw justru sangat siap jadi gw bawa semua kenikmatan di sini Jun biar hidup gw disana lebih nikmaaattt” Frey membentangkan tangannya.
“Gak sekalian aja lo bwa seruling biar pas lo bajak sawah lebih nikmaaaatttt” Arjuna ikut membentangan tangannya dan keduanya tertawa terpingkal.
“Eh gw gak ikut nganter ke bandara ya Frey. Gak enak ama Mas Bambang. Ntar bahaya kan kalau dia cemburu ke gw” seharusnya Frey bersedih namun malah tertawa nyaring.
“Busyet…ketawa lo nyaring bener Frey. Kagak ada sedihnya ya ninggalin gw”
“Arjuna…Arjuna…ampe mati juga Mas Bambang gak akan cemburu ke lo.  Hati dia itu super cool. Gw mau pergi aja dia tenang banget kayak patung.  Dia gak nganterin gw kok ke bandara. Biasa…ada meeting penting yang gak bisa ditinggal”
“Serius Frey? Kalau gitu gw hadi nganterin lo dah” raut masam Arjuna berubah jadi cengiran kuda sekarang.
“Hadoh bilang aja lo masih pengen kangen-kangenan ama gw kan. Dasar tukang gombal nomer satu sedunia” jitakan lembut Frey sudah mendarat di kening Arjuna.
“Salah Frey, gw masih nomer dua neh sekarang. Posisi nomer satu masih tidak terkalahkan ditempati oleh Mas Bambang tercinta karena berhasil bikin lo klepek-klepek”
“Ralat lagi Jun! Bikin mama papa gw klepek-klepek” keduanya tertawa, seperti menertawakan kebodohan masing-masing.
“Gw gak bisa banyangin lo nikah ama orang yag gak pernah lo cintai Frey” seketika kalimat Arjuna membuat tawa Frey berhenti.  Otak di dalam tempurung kepalanya berhenti bekerja sejenak merenungi perjalanan hidupnya dengan hati.
“Orang nikah gak butuh cinta Jun. Asal bisa bikin orang tua gw seneng apa aja juga bakal gw lakuin. Toh pelan-pelan juga cinta. Bukannya cinta muncul karena kebiasaan kan”
“Dan kebiasaan-kebiasaan di antara kita ini cuma kebiasaan ya” Arjuna mendekatkan wajahnya pelan dan Frey hanya terdiam.
“Jun…” Frey menarik napas panjang
“You just my very best friend” tak lama Frey beranjak dari duduknya.
“AMPOOONNN….gagal lagi dah gw. Lo, gw, END” Arjuna menepuk jidatnya sendiri dan hanya tertawa sembari mengucapkan kalimat terakhir dengan gaya alay seperti kebanyakan remaja yang sedang galau.
Frey hanya cekikikan sembari menuangkan minuman dari kulkas di gelas Arjuna yang sudah lama kosong.
“Eh Jun…gw terima tawaran lo deh” Arjuna nyaris melompat dari tempat duduknya karena senang walau dia sendiri tidak tahu tawaran mana yang dimaksud Frey. Terlalu banyak hal yang Arjuna tawarkan untuk Frey dan ditolaknya.
“Eh..tawaran yang mana neh” Arjuna akhirnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sering-sering tengokin mama ya. Gw dah ngomong ke adik-adik gw kemarin tapi mereka kayaknya terlalu sibuk deh kalau tiap minggu mesti maen ke sini.  Lo tau sendiri Grey lagi hamil anak pertamanya dan mertuanya kekeh banget jagain dia tiap hari.  Maklum baru hamil lagi setelah dua kali keguguran bikin mertuanya super ngejagain calon momongannya.  Paling kalau dia mau partus aja dibawa kemari biar lebih dekat ama mama. Dek Treya juga lagi sibuk honey moon tuh. Heran deh gw, udah setahun nikah kenapa mesti honeymoon mulu yak.  Masih belum pengen punya anak juga dan malah kayaknya gw lihat lebih mirip orang pacaran dah. Lucu banget deh kalau lo lihat si Treya” Frey mengambil gelas minumannya juga.
“Hmm…ada yang ngiri pengen cepet honeymoon trus punya anak neh” suara Arjuna sudah pasti hanya ditujukan ke Frey.
“Eit…Ralat lagi ya Jun. Gw cuma gak habis piker aja. Dulu mereka sendiri yang bilang bakal sering main ke sini, bakal kangen mama papa lah, eh pas dah nikah berubah dah. Itu yang gak gw suka dari nikah. Suami lo bisa bikin lo jauh dari orang tua lo sendiri”
“Ntar kalo lo jadi istri gw, 24 jam selama 7 hari dalam seminggu gw temenin deh kalau mau bareng mama terus” jelas saja bercandaan Arjuna kali ini tidak tepat waktunya.  Frey cemberut dan tidak tertawa seperti biasa.
“Upss…sorry bercanda Frey. Tapi bukan berarti lo gak bakal nikah kan Frey”
“Hello…gw lagi ngejalanin prosesnya Jun”
“Nikah itu memang bukan nyari yang sempurna Frey tapi gimana caranya bikin hidup lo lebih sempurna dengan orang yang serba gak sempurna” dan kalimat ini membuat keduanya terdiam dalam alam pikiran masing-masing.
*** 
continue to Chapter 5
CHAPTER 3

Rumah ini satu-satunya yang terlihat paling dekat dengan bibir pantai, hanya berjarak 200 meter saja.  Gulungan ombak pantai yang mengguncang disertai awan biru indah di atasnya dapat dilihat dari rumah kecil itu.  Bahkan padang pasir putih yang membentang luas sebagai bibir pantai pun masih dapat terlihat walau samar.  Sedikit tanah berbukit menyembul dan menyisakan cekungan besar sebelum akhirnya menyentuh tanah pekarangan ruma. 

Bila musim kemarau sangat terik seperti sekarang ini, cekungan tersebut seperti tanah melambai yang kering dan sangat gersang namun beberapa kerbau masih bergumul mencari sisa-sisa rumput yang bertahan hidup.  Bila hujan turun maka sekejap cekungan tersebut berubah menjadi kubangan raksasa tempat mandi para kerbau dan juga salah satu tempat kegemaran Anopheles si penyebar malaria.

Musim kemarau masih menyelimuti desa kecil ini bahkan hampir seluruh Sumba padahal pekarangan itu hanya membutuhkan satu titik air hujan saja untuk menghidupkan biji-biji jagung dan padi yang sudah sejak lama dipersiapkan oleh penduduk desa.  Sedari pagi seorang Inya menggendong anak terakhirnya yang baru berumur setahun sembari mengeringkan sisa-sisa biji jagung yang mereka miliki.  Musim lapar telah tiba dan Inya tahu bahwa nasib lima orang anak dan suaminya berada di tangannya.  Dia harus menghemat sedemikian rupa biji jagung sampai musim tanam tiba bila ingin tetap hidup.  Itu pun bila hujan benar-benar datang.

Sementara anak gadisnya yang tertua berada di sampingnya, memungut satu persatu biji jagung yang sudah dipilah oleh sang Inya.  Tangan kecilnya memasukkan biji jagung ke dalam batu yang dilubangi tengahnya sehingga menyerupai lumbung.  Namun tidak dapat sepenuhnya dikatakan lumbung karena ukurannya memang kecil dan hanya satu lubang dengan kedalaman 10 sentimeter saja.  Dua genggam biji jagung biasanya cukup unutk makan keluarganya hari ini.  Ditumbuk  hingga lembut dan setelahnya dimasak dengan campuran air yang banyak.  Bubur jagung, begitu mereka menyebutnya.  Jika panen singkong masih tersisa maka mereka akan merebusnya bersama singkong.  Bukan benar-benar singkong sepertinya karena bentuknya lebih mirip dengan singkong berjamur yang di tanah Jawa disebut gaplek.  Mereka akan mengupas singkong hasil panen satu persatu dan memotongnya kotak kecil lalu merebusnya di atas tungku kayu.  Setelah mendidih, singkong kecil tadi akan ditiriskan dan dijemur hingga kering.  Tidak butuh waktu lama karena memang matahari tepat berada di tengah Sumba sekarang.  Namun biasanya mereka akan mengulang kembali jemnuran singkongnya keesokan hari hingga mereka benar-benar yakin singkong telah kering dan dapat disimpan.  Mudah saja mengetahui singkong keringnya, lemparkan ke tanah dan tidak pecah, itu tandanya.  Singkong itu mengeras akhirnya.

Terkadang jika mereka terlalu lelah dan persediaan kayu bakar berkurang, maka singkong tidak melewati proses direbus, langsung saja dijemur.  Kebanyakan memilih cara kedua yang lebih  sederhana  dan menghemat kayu bakar. Bukan kayu sebenarnya yang menjadi masalah utama tapi air untuk merebus karena lebih baik air mereka gunakan untuk minum keseharian. 

Mata air satu-satunya yang masih dapat diandalkan berjarak tidak jauh dari rumah alang tersebut, hanya perlu berjalan 10 menit saja walaupun harus sedikit berhati-hati menuruni lembah ketika sudah berada di bibir mata air.  Mereka menyebutnya mata air Putri Gurita lantaran dahulu kala di desa mereka ada putri cantik yang masih belum menemukan jodohnya sehingga setiap minggu selalu digelar pesta menari dengan mengundang banyak pemuda.  Walhasil setelah lama berpesta, datanglah lelaki yang membuat hati putri bergetar. Mereka menikah dengan mas kawin seribu ekor kerbau untuk sang putri.  Ternyata lelaki tampan itu jelmaan buaya sehingga si putri pun berubah menjadi gurita dan ikut serta dalam laut bersama suaminya.  Keduanya hidup bahagia hingga anak-anak mereka yang berwujud gurita menjadi bahan tertawaan ketika kembali ke darat menengok kakek neneknya.  Sejak saat itulah putri terus menangis dan air matanya menjadi mata air yang menyelamatkan banyak nyawa.

Apapun nama mata air tersebut yang terpenting memang lubang berdiameter satu meter itu memancarkan airnya walau dengan susah payah melawan teriknya kemarau. Seluruh penduduk kampung ini menggatungkan pada mata air tersebut untuk keperluan keseharian mereka walaupun rasanya sedikit asin karena terletak tidak jauh dari laut.  Dirigen beraneka ukuran biasanya dipanggul menggunakan kepala sebagai tradisi penduduk kampung dalam membawa beban.  Tidak jarang kedua tangannya masih membawa dirigen juga hingga total tiga dirigen akan mereka bawa sekali jalan.  Sulit, memang tapi begitulah keadaannya. Mengharapkan air bersih memasuki rumah dan listrik menerangi perkampungan mereka memang sulit.  Sama beratnya dengan hirupan udara yang makin menyesaki dada mereka.
*** 

continue to Chapter 4

Rabu, 04 Januari 2012

Chapter 2

CHAPTER 2
Suara jam dinding besar di ruangan utama rumah Frey berdentang keras. Sudah tepat jam dua belas siang rupanya. Pantas saja panas semakin terasa terik walau Frey sudah menyalakan pendingin sekali pun.

“Frey sayang…apa keputusan kamu sudah tidak bisa diubah lagi. Mama gak pengen kamu pergi kesana. Hadoh mama gak bisa banyangin ntar kalau kamu sakit atau kena malaria trus siapa yang ngurus kamu ntar. Udah deh kamu disini aja ya sayang. Kan karir kamu di rumah sakit juga udah bagus. Kalau kamu mau sekolah ngelanjutin spesialis juga gak papa asal kamu gak pergi jauh” Nyonya Singgih masih saja mencoba merayu anak pertamanya itu.

“Tenang aja mama. Ntar Frey bakal sering-sering telepon mama deh”

“Jangan lupa kasih kabar terus ke mas Bambang ya” Frey langsung terdiam dari membereskan kopernya, ah nama itu lagi. Bahkan hingga mendekati kepergiannya tetap saja masih disinggung nama itu.  Padahal Frey berharap nama itu segera memutuskan pertunangan karena keputusannya memasuki dunia pedalaman.  Andai membahagiakan orang tua semudah membalikkan telapak tangan mungkin dari awal Frey tidak akan terjebak dalam pertunangan yang tidak melibatkan perasaan sama sekali ini.

“Kasian kalau Mas Bambangmu terus mengkhawatirkan keadaanmu disana”

“Iya mah” Frey hanya menjawab singkat jika sudah menyangkut nama tunangannya agar tidak terkesan menjadi anak yang tidak berbakti.

“Kok lemes gitu jawabnya sayang. Kamu gak sreg ama mas Bambang ya?” Nyonya Singgih malah mengeluarkan pertanyaan yang hanya akan membangunkan singa tidur.

“Mah…udah deh gak usah ngomongin mas Bambang mulu. Kalau dia mau kan dia bisa ikut pindah tugas sekalian di pedalaman sana. Nyatanya dia tetap di sini. Lagian Frey juga tahu kalau ini sudah keputusan final mama papa jadi apa salahnya juga kalau kepergian Frey ke pedalaman ini juga keputusan final!” Frey rasa dirinya sudah selesai berbenah koper dan ada alasan untuk menghindari obrolan ke arah yang lebih serius.

“Frey…maksudmu apa sayang?” Nyonya Singgih menatap nanar wajah anak tersayangnya.

“Udahlah mah lupain aja. Anggep aja Frey gak ngomong apa-apa tadi. Frey pergi dulu mah. Lupa beli pelindung nyamuk neh” Frey segera ngeloyor pamitan secepat kilat dan masih menyisakan banyak tanda tanya di benak Nyonya Singgih.

“Jun…lo dimana? Gak lagi jaga kan. Ketemuan di tempat biasa yah sekarang!” tidak butuh waktu lama untuk Frey memastikan Arjuna akan datang di tempat favoritnya.  Entahlah hubungan ini memang aneh.  Arjuna selalu saja berada di samping Frey ketika gadis itu membutuhkan.

Jejeran buku yang berderet membuat perasaan Frey sedikit nyaman.  Dilihatnya beberapa buku yang masuk dalam deretan best seller. Dibaca resensinya dan jika suka Frey tinggal memasukkan ke tasnya saja. Tapi yang paling mengasyikkan adalah duduk di sofa panjang dan melihat aktivitas orang-orang yang gila membaca.  Tidak lama, Frey merasa ada seseorang yang duduk di sofa dengan membelakanginya.

“Halo miss bookacholic. Kangen ama buku-buku neh atau sengaja bikin pertemuan terakhir ama gudangnya buku neh” Frey tidak perlu menoleh ke sumber suara karena sudah pasti suara bariton yang membuat banyak gadis tergila-gila itu milik Arjuna saja.

“Tumben lo gak salah sofa Jun. Dah ganti soft lens ya” omongan Frey membuat Arjuna membalikkan badannya dan duduk bersebelahan dengan Frey.

“Coba lihat…wah buku berat lagi neh yang lo ambil.  Lo gak pernah bosen baca tuh novel yang super tebel yah. Pakai bahasa orang lagi” Arjuna mencomot novel Indonesian Gold karangan Kerry B. Collinson.

“Ah gak juga. Lo kan tau selera gw. Neh udah gw beli novel yang rada ringan” Frey menunjukkan tas belanjanya yang sudah dipenuhi beberapa novel best seller.

“Ah palingan gak nyampe seminggu juga udah kelar lo baca semua neh. Trus ntar sisanya kalau lo bosen lo mau baca apa? Di sini yang jam sibuk aja lo masih sempet baca apalagi di pedalaman ntar yang lo bingung mau ngapain” tidak butuh waktu lama untuk Arjuna merasakan cubitan ringan di lengannya seperti biasa.

“Yeh…that’s why you be here now Jun” Senyum nakal Frey membuat Arjuna tersenyum.  Rasanya seperti terjebak dalam permainan yang unik. Yah, dia harusnya paham bahwa Frey tidak akan mudah mengajaknya keluar di detik-detik terakhirnya jika bukan karena ada sesuatu.

“Anything for you my Princess” kali ini giliran Frey yang dibuat salah tingkah karena Arjuna sudah berada di hadapannya dengan tangan mendayu bak Pangeran menjemput sang Putri impiannya. Keduanya tersenyum, mereka tahu waktunya tidak banyak lagi.

Frey pun segera mengajak Arjuna berjalan mengelilingi toko buku terbesar sekaligus tempat favorit mereka karena setelah lelah berputar mencari buku maka keduanya akan terkapar di lantai tertinggi menikmati makanan.

“Nah etalase yang novel psikologis itu ada beberapa yang belum gw baca. Tapi belum prioritas banget sekarang cuma bener kata lo, buku yang gw beli udah bakalan habis gw baca dalam waktu singkat jadi sisa waktunya gw cuma bisa ngandelin lo aja. Gw akan nunggu lo ngirim semua buku ini ke pedalaman gw nanti yah. Oh yah…di etalase buku anak masih ada ini…ini…ini…siapin juga yah bulan depan. Beberapa buku anak udah gw bawa” Frey terus saja berjalan mengitari deretan buku namun tetap saja dia masih tidak menyadari tatapan mata Arjuna tidak lepas darinya.

“Mencintai seseorang tidak butuh alasan Frey…bahkan menunggunya juga tidak butuh alasan” Arjuna berkata lirih.

“Eh barusan lo ngomong apa Jun?” Frey segera menoleh ketika dirasanya ada suara dari bibir Arjuna.

“Eh bukan apa-apa. Lo mau dikirimin apa aja tadi?”

“Jun…jadi dari tadi lo kemana aja. Wah harus puter balik neh buat nunjukin lo lagi mana aja yang mesti dikirim nanti” Frey langsung pucat pasi namun dibalas dengan tatapan cengir Arjuna.

“Gak lah Frey…lo tau kan daya ingat gw lebih tinggi dari kecepatan ultrasonik sekali pun” Arjuna pun menyebutkan semua buku yang diinginkan Frey tanpa terlewat sedikit pun.

“Yeh…gw dah hampir lemes neh kalau harus ngulang lagi. Lo tau sendiri kita udah naik ke lantai berikutnya. Kayaknya list gw buat cadangan buku setahun udah kelar deh. Gw dah kirim semuanya ke rekening lo yaaah” kali ini Arjuna yang mendadak terdiam. Kebiasaan Frey memang sulit untuk ditebak.

“Hadoh Frey lo pakai ngirim segala. Bahkan seisi tempat ini masih mampu gw hadiahin ke lo kalau lo minta mas kawin buku. Ups…” tentu saja keceplosan Arjuna mendapat ganjaran cubitan ringan lagi.

“Eit…ganti cubit disini dong” Arjuna sudah hapal kebiasaan cubitan Frey sehingga dia menyodorkan pipinya yang dibalas Frey dengan usapan lembut.

“Thanks ya…lo kan mesti nabung tuh duit buat bikin istana. Kan lo tau sendiri banyak banget perawat yang pengen ngikut lo praktek nanti jadi lo mesti bikin istana yang gedhe buat nampung semua fans lo”

“Frey…” suara Arjuna membuat Frey merasa ada yang aneh

“Kenapa Jun. Lo gak lagi sakit kan atau kecapean karena nemenin gw keliling neh tempat”

“Frey…”

“Jun…lo baik-baik aja kan” kali ini Frey menempelkan telapak tangannya di kening Arjuna.

“Gw pengennya lo yang ada di istana gw ntar”

“Plak!” ketukan ringan di kening Arjuna yang disambut dengan tawa lembut Frey kini menyadarkan Arjuna.

“Ya ampun…gw kira lo sakit Jun. Hahaha….udah dulu yah ngegombalnya. Gw lagi gak pengen sakit perut karena ketawa neh. Yuk lanjut lagi jalannya” Frey berbalik namun langkahnya terhenti karena Arjuna memegang erat tangannya.

“Jun…” kali ini bola mata Frey yang bermain menembus Arjuna yang makin memegang erat tangannya.

“Jun…” kali ini suara kedua yang membuat Arjuna melonggarkan genggamannya dan akhirnya melepaskannya di suara ketiga.

“Yuk lanjut” seketika Frey bahkan sudah melupakan adegan yang dirancang sepenuh hati oleh Arjuna tadi.  Arjuna pun memilih mengalah dan menjadi sahabat seperti biasa.

Dua keranjang penuh buku pun kembali menyita konsentrasi mereka. Memisahkan Frey dari buku sama seperti melepas kulit arinya perlahan hingga menimbulkan sakit luar biasa. Bahkan hingga menjelang kepergiannya saja masih sempat berburu buku.

“Balik yuk Frey…ntar mama nyariin lo lagi. Kan lo anak mama banget…” omongan Arjuna kembali mengingatkan Frey akan sedikit kekasarannya terhadap mamanya.  Kegembiraan bersama buku seperti membius dan menghilangka sakit terhadap apapun yang Frey rasakan.

“Sial lo. Emangnya kalau bukan dari rahim nyokap lo lahir darimana” dan keduanya tertawa.

“Iyeeee bu dokter cantik…gw masih normal keluar dari mulut rahim kok bukan dari hidung kayak lo” langsung saja kebiasaan menjawil hidung Arjuna kumat dan Frey menjadi sasaran empuk.

“Lo ini…kapan seh bisa gak pake njawil hidung. Sakit tahu dokter gila!”

“Wah ngomongin diri sendiri neh. Hahaha”

“Sialan lo. Mesti banyak-banyak berlatih berbakti ke nyokap lo. Surga ada di bawah telapak kaki ibu loh” kini keduanya sudah berjalan menuju salah satu tempat makan favorit mereka dengan dua plastik besar berisi buku.

“Gw heran kenapa mesti di bawah telapak kaki neh. Kenapa surga gak di bawah vagina ibu aja kan jelas-jelas tuh kita semua mbrojol dari vagina” seperti biasa terkadang spontanitas Arjuna membuat Frey berpikir atas hal-hal yang tidak pernah dipikirkannya sekali pun.

“Wah…repot tuh kalau surga di bawah vagina ibu, anak kecil gak boleh ngintip dong kayak di telapak kaki ibu. Atau memang karena daerah yang satu itu udah disiapin buat bapaknya anak-anak jadi bunyinya bagi suami, surga di bawah vagina istrinya” Frey membuat analisis sederhana sembari menunggu pesanannya datang.

“Hmm…boleh juga tapi pernah mikir kenapa Tuhan pakai perumpamaan telapak kaki ya. Coba deh lo analisis secara anatomisnya” kali ini Arjuna memancing Frey mengeluarkan analisis secara ilmiahnya.

“Telapak kaki yah…secara anatomi kita tahu sih kalau telapak kaki itu bagian kulit yang paling tebal dibandingkan kulit lainnya.  Selain itu, telapak kaki letaknya di bawah sebagai tempat melangkahkan setiap tujuan dan dia menyangga semua berat tubuh”

“Yup…setuju Frey. Tuhan lebih tahu yah kalau wanita itu akan menyangga semuanya termasuk keharmonisan keluarganya dan dengan langkah kakinya dia akan merestui kemana anak-anaknya nanti melangkah” kalimat terakhir Arjuna membuat Frey terdiam.

“Mama gak setuju gw pergi tapi gw rasa gw akan komunikasiin lagi dengan lebih baik setelah ini” Frey mengalihkan pembicaraan.

“Sory Frey…gw gak bermaksud ngingetin lo ke mama. Tenang aja…ntar gw bakal sering main ke rumah buat menghibur tante kalau dia kangen anak tercantiknya ini”

“Santai aja Jun…masih ada adik gw yang ntar nemenin mama kok”

“Adik lo yang mana…kan semuanya dah nikah dan gak serumah lagi” kali ini Frey yang terdiam karena dia memang lupa hal penting satu itu.  Hanya dia sendiri yang belum menikah dan selama ini di rumah menemani orang tuanya walau kebersamaan mereka tidak banyak lantaran Frey terlalu sibuk dengan tugasnya di rumah sakit.

“Ups…nyaris lupa gw. Thanks udah diingetin. Ntar gw minta adik gw sering-sering nengokin mama deh”

“Ya udah…santai aja ntar biar gw aja nengokin tante gak masalah. Lo kayak gak tau siapa gw aja”

“Yeh…Kerjaan lo di rumah sakit kan gw jamin akan makin numpuk setelah gw pergi Jun jadi gw gak pengen nambahin kesibukan lo”

“Kagak lah Frey…masa seh nengokin ibu mertua sendiri dibilang sibuk” otomatis Frey mencubit keras lengan Arjuna yang tidak dapat dihindarkan lagi.

“Udah ya ngomong sembarangannya. Yuk pulang…gw mendadak kangen mama neh”

“Busyet…cepet bener berubah Frey. Baru aja jalan muterin neh toko buku empat jam dan lo udah pengen pulang”

Kali ini pembicaraan Arjuna sudah tidak begitu didengarkan oleh Frey karena pepatah surga di bawah telapak kaki ibu kembali terngiang di kepalanya. Memasuki cerebellumnya dan menembus langsung ke heparnya hingga Frey tidak dapat bernafas membayangkan bila surga berada di bawah vagina ibu. Rasanya menjijikkan walau kenyataanya memang benar bahwa setiap kepala akan muncul dari lubang ajaib bernama “vagina”.

*continued to Chapter 3
CHAPTER 1

Rumah sakit terbesar di kota ini masih tetap sama. Bangunan kokoh bekas peninggalan Belanda yang sudah dipugar di beberapa titik ini masih saja berdiri angkuh.  Hanya cat tembok berwarna putih rapi yang sedikit berubah, mungkin memang baru saja diganti catnya lantaran akan ada uji akreditasi rumah sakit seperti biasanya. Pasien tetap tidak banyak berubah, selalu saja ramai memenuhi bangsal dan poli seperti air bah bahkan pada beberapa kondisi nyaris seperti banjir bandang, datang tanpa dapat dihentikan.  Entahlah, lama-lama rumah sakit ini malah seperti puskesmas besar dimana setiap puskesmas kecil akan merujuk pasiennya untuk ditangani di rumah sakit ini, tentunya dengan dalih bahwa pasien memang tidak dapat ditangani di puskesmas biasa. Bahkan tidak jarang setelah hari besar dan libur panjang seperti lebaran maka kunjungan pasien yang dirawat meningkat hampir tiga hingga lima kali lipat. Butuh kerja keras dan kesabaran luar biasa untuk berada di rumah sakit ini dengan penampilan dan pelayanan prima tetapi sosok gadis itu sepertinya tidak mengindahkan lagi segala perjuangan yang telah dia lakukan di rumah sakit itu. Dua tahun karirnya di rumah sakit tersebut harus ditinggalkan hanya dalam waktu seminggu saja.  Surat pengunduran dirinya sudah sampai di meja direktur dan tentu saja hanya dalam hitungan hari dia sudah berada di depan meja besar berwarna cokelat dengan ukiran Jepara bertuliskan Direktur.

“Dokter Freya…surat pengunduran diri dokter sudah saya pelajari namun saya masih berharap dokter mempertimbangkannya dan kembali berkerja bersama tim kami.  Kita sudah seperti satu keluarga dan prestasi dokter selama ini sebagai dokter umum sangat kami hargai” suara serak yang sedikit berat tersebut menyadarkan Freya bahwa bukan hanya satu lelaki saja yang melarangnya pergi bahkan orang nomer satu di rumah sakit ini pun berkata hal yang sama.

“Terima kasih atas apresiasinya dok. Rumah sakit dan seluruh keluarga besar ini telah banyak memberikanpengalaman berharga untuk saya apalagi selama ini dokter tidak segan memberikan masukan secara pribadi kepada saya. Tapi keputusan saya sudah bulat, saya ingin belajar ilmu lain di pedalaman sana. Jikalau tidak keberatan nantinya mungkin saya akan kembali merepotkan dokter di rumah sakit ini lagi” dokter Frey berucap sopan dan Sang Direktur mengerti ada yang tidak dapat dihalangi dari jiwa petualang dokter muda yang satu itu.  Sang Direktur pun menjabat tangan dokter Frey sembari mengucapkan beberapa kata perpisahan.

Ruangan besar itu pun kembali hening.  Masih teringat dengan jelas Frey pertama kali memasuki ruangan itu saat dirinya masih berstatus sebagai mahasiswa kedokteran yang magang di rumah sakit tersebut.  Pengalaman yang cukup menegangkan karena pertama kalinya dalam sejarah seorang koas dipanggil menghadap hingga tataran Direktur dan diperbincangkan hingga rapat mingguan para dokter senior.  Pasalnya sederhana, sangat sederhana malah.  Frey hanya merayakan ulang tahun satu pasien yang dirawatnya ketika tanggal satu Januari tiba.  Mendadak rumah sakit heboh karena selama ini tidak pernah ada pelayanan merayakan ulang tahun seperti itu. Padahal, Frey hanya melakukan hal yang sangat sederhana. Pasien tuanya yang dirawat karena Diabetes Mellitus ingin sekali makan klapertaart buatan Manado karena teringat kekasihnya yang sudah lebih dahulu meninggal menghadiahkan masakan istimewa tersebut.  Dibantu beberapa perawat bangsal, Frey membuat sendiri kue khas Manado tersebut dan tepat di perayaan tahun baru memberikan kejutan tersebut.  Frey tahu penyakit kencing manis yang diderita kakek tua ini sudah komplikasi namun Frey juga tahu kenangan pertemuan cinta pertama tersebut harus dibangkitkan lagi untuk menyemangati si kakek.  Frey sudah berjaga-jaga dan memikirkan semuanya. Toh klapertaart yang dia buat harusnya super manis karena memang bahannya menggunakan gula dan susu manis namun telah dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengurangi resiko kenaikan kadar gula pasien.  Bahkan, Frey telah mengukur ulang kadar gula pasien sebelum dan sesudah mengkonsumsi hadiah tersebut.  

Lalu bagaimana mungkin kasus sepelenya ini mendapatkan perhatian serius dari Direktur rumah sakit tempatnya belajar? Ternyata anak dari kakek tersebut adalah salah satu pejabat tinggi Pertamina dan mengucapkan terima kasih langsung dengan bertemu Sang Direktur atas perayaan ulang tahun yang sederhana tersebut.  Frey tidak menyangka sebelumnya karena memang pada hari ualng tahun kakek tersebut dia hanya berharap anak-anak kakeknya dapat berkumpul bersama.  Bahkan Frey sampai nekat menghias kamar perawatan si kakek dengan aneka hiasan ulang tahun sederhana ketika si pasien dibawa berkeliling sebentar dengan kursi roda.  Sejak kejadian tersebut, ide untuk memberikan pelayanan prima terhadap beberapa pasien mulai diterapkan namun tidak sampai yang heboh seperti yang Frey lakukan. Dia mendapat teguran keras dan juga pujian lembut dalam satu waktu dari Sang Direktur.

Tidak ada yang berubah banyak di ruangan Direktur sejak pertama kali Frey memasukinya lantaran keisengannya dulu. Bahkan direktur yang duduk di kursi mewah tersebut masih sama dengan direktur yang pertama kali menegurnya dulu.  Hanya saja, raut wajah yang menua makin terlihat di guratan kulit Sang Direktur.

Tidak lama setelah keluar dari ruangan tersebut, sebuah tangan menariknya lembut. Frey tahu tidak akan yang dapat mengubah keputusannya kali ini.  Keputusannya sudah bulat.

“Ikut gw,  kita harus bicara” lelaki tadi membawa Frey ke sebuah kafe.   

Kafe taman, sebuah tempat nongkrong yang dibangun dengan gaya minimalis di sudut taman rumah sakit, tempat yang memang kesehariannya menemani mereka melepas penat keseharian melayani pasien.
Sepasang minuman ringan yang dingin sudah berada di depan pasangan itu namun belum ada yang mulai untuk mengeluarkan suara. Tampaknya suasana di antara keduanya tetap saja dingin.

“Lo harus ubah keputusan lo Frey” lelaki tadi akhirnya membuka percakapan dengan tarikan napas yang berat.

“Lo gak bisa begitu aja ninggalin semua yang udah lo bangun di sini.  Lo gak bisa melarikan diri kayak gini Frey” suara lelaki tadi masih mendominasi, menunggu jawaban si gadis yang masih terdiam dan menyeruput minuman dinginnya dengan malas.

“Jun…sudahlah. Keputusan gw udah FINAL” akhirnya lelaki bernama Arjuna hanya diam namun dirinya tahu pasti sosok gadis di hadapannya masih akan mendengarkan pendapatnya.

“Frey…gw tau lo BANGET. Lo gak mungkin bisa hidup di pedalaman terpencil kayak gitu, tanpa air, tanpa listrik, dan tanpa kafe. Mau ngapain lo disana? Ngapain lo mesti ninggalin tempat ini. Gw tau mimpi lo masih panjag Frey dan melarikan diri ke tempat itu gak masuk ke draf panjang mimpi lo” Arjuna masih mencecar mencoba mengubah keadaan.

“Lo gak tau apapun tentang gw JUN” Frey berteriak kesal.  Dia memang sudah menghabiskan hidupnya dalam waktu lama dengan lelaki di hadapannya tetapi mendengarkan diktean yang memang kenyataan membuat harga dirinya terinjak.

“Oh…yap. Gw memang gak tau apapun tentang lo Frey tapi gw tahu BANGET apa yang lo mau. Freyka Anindya Puspita, dokter terkenal di rumah sakit yang pasiennya selalu saja banyak. Pedalaman bukan mimpi lo Frey. Ini cuma emosi lo sesaat untuk melarikan diri” kalimat terakhir membuat Frey ingin muntah. Memangnya kalau dokter terkenal dan sudah mempunyai banyak pasien langganan tidak boleh ke pedalaman.  Memangnya orang sakit hanya di kota ini saja. Memangnya ada aturan yang melarang dirinya untuk pergi. 

“Lo cuma sahabat gw Jun. Bukan siapa-siapa gw!” Frey mengambil sisa minuman kalengnya dan beranjak pergi.  Melemparkan minuman kaleng hingga tepat masuk ke dalam bak sampah tanpa memperhatikan lelaki yang juga masih mengejarnya, menyejajarkan langkahnya dan akhirnya memegang kedua pundaknya di lorong rumah sakit.  Beruntung pelayanan di poli rumah sakit sudah selesai dari siang dan giliran kedua dokter ini jaga gawang di unit pelayanan darurat.

“Frey…lihat gw. Kalau omongan gw bikin lo sakit, gw minta maaf.  Gw ngomong gini memang karena gw bukan apa-apa lo tapi sahabat lo. Gw gak pengen lo semakin sakit Frey. Kalau masalahnya ada di keputusan papa mama, gw bisa bantu lo untuk bilang ke mereka.  Perjodohan pertunangan atau segala macam apalah namanya yang seperti zaman Siti Nurbaya itu bisa dibatalkan.  Jangan pergi dari sini. Gw butuh lo….sebagai sahabat gw” Arjuna mengakhiri kalimatnya dengan tatapan lembut namun menghujam hati.

“Arjuna….Arjuna Mahardika, andai semua semudah yang lo bilang.  Andai dapat mencintaimu pastilah masalahnya tidak akan serumit ini. Andai benar-benar bisa mencintaimu” Frey menurunkan tangan Arjuna dari pundaknya. Kini tangan halusnya menempel lembut pada pipi lelaki tampan di hadapannya.  Hanya gadis buta dan gila saja yang tidak akan takluk di hadapan lelaki sempurna ini. Dan mungkin Frey salah satu gadis gila yang hanya memasukkan nama Arjuna sebagai sahabat walau sepenuhnya dia tahu rasa cinta di mata lelaki itu tidak akan pernah hilang. Sayang, semua kalimat tadi tidak pernah terucap oleh Frey. Matanya masih sejuk menatap dua bola mata Arjuna.

“Lepasin gw Jun. Keputusan udah gw ambil. Minggu depan gw berangkat ke Sumba. Jaga diri lo. Hari ini terakhir kalinya kita jaga bareng. Thanks buat semuanya” dan Frey pun berjalan pelan meninggalkan Arjuna yang masih terus berdiri di lorong panjang tersebut.  Lorong inilah yang sering menemani keduanya berbicara mimpi apalagi jika malam hari tiba dan mereka mendapatkan tugas jaga rumah sakit bersama. Lorong ini salah satu tempat favorit mereka dimana mereka merasa lebih aman dari gangguan pasien dibandingkan berada di kamar jaga mereka. Hari ini, hari terakhir mereka mengukir kenangan, memperdalam kenangan selama tujuh tahun agar tetap abadi sebagai sahabat.

“Frey…kenapa masih saja tidak dapat melepaskan bayangnya. Dia sudah pergi tujuh tahun ini tetapi tetap saja yang ada di mata dan hatimu hanya dia.  Mengapa tidak sekali pun memberikan kesempatan yang sama padaku? Mengapa harus ada yang salah dengan hubungan kita yang hanya sebagai sahabat” berbagai pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawabannya itu selalu saja berhamburan di kepala Arjuna. 

***
Bippp…suara panggilan dari telepon genggam menghentikan lamunan Arjuna sementara dilihatnya Frey sudah hilang dari pandangan. Sejenak ragu mengangkat telepon tersebut karena nama Frey yang muncul disana. Namun disingkarnya pikiran lain, mungkin panggilan pasien seperti biasa.

“I need you here soon Jun. Massal accident. ASAP” Arjuna segera melangkahkan kakinya berlari menuju ke IGD.  Nyaris saja dia lupa tanggal dan hari apa sekarang karena kecelakaan massal dan apapun pasien gawat darurat tidak mengenal waktu.  Tidak butuh lama untuk sampai di ruang jaga karena memang Arjuna sudah terbiasa lari.  Ternyata memang benar kecelakaan massal.  Ada kereta api terguling tidak jauh dari rumah sakit mereka dan sekarang IGD yang tadinya sepi menjadi berubah.  Segera saja kedua dokter tersebut melakukan indentifikasi kegawatdaruratan pasien.  Menentukan mana pasien yang harus ditangani pertama kali dalam situasi kecelakaan massal ini tidak mudah. Beberapa pasien mengalami patah tulang, beberapa terbakar gerbong kereta, dan sisanya luka ringan saja. Namun segera saja keduanya memprioritaskan pada pasien yang nyawanya masih dapat diselamatkan bila segera cepat bertindak.   Dua pasien mengalami perdarahan banyak yang tidak berhenti di lututnya yang tertindih balok kereta.  Dan dua dokter tadi sudah bermandikan darah mengatasi perdarahan dengan segera.  Telepon berdering dimana-mana termasuk konsultasi dengan dokter spesialis yang lebih berwenang untuk segera melakukan tindakan bedah agar nyawa pasien dapat selamat.

Belum selesai penanganan kegawatdaruratan pada 20 pasien ambrukan kereta, datang pasien tidak sadarkan diri.  Frey segera mendatangi pasien tersebut dan memeriksa kesadarannya. 

“Sudah berapa lama tidak sadar? Punya riwayat gula atau pernah stroke sebelumnya?” Frey dengan lincah bertanya sekaligus matanya tidak lepas dari memeriksa beberapa kelemahan alat gerak dalam ketidaksadaran pasien tersebut.

“Baru saja setengah jam yang lau, tiba-tiba bapak jatuh padahal sedang duduk saja di depan TV.  Memang punya gula dan pernah stroke sebelumnya dok” keterangan itu langsung diserap dokter Frey sembari perawat yang memeriksa tekanan darah memberitahukan 180/120 sebagai tekanan darah pasien.  Segera saja Frey menuliskan beberapa terapi yang segera dilakukan oleh perawat.  Tidak lupa juga pasien tadi segera dilakukan pemeriksaan CT-Scan kepala untuk mengetahui letak kerusakan otaknya.  Beberapa prosedur memang sudah wajib harus dilakukan bila pasien curiga stroke datang.  Biasanya setelah hasil laboratorium darah dan CT-Scan keluar maka tiap dokter umum yang jaga akan berkonsultasi dengan dokter spesialis tertentu.

Hari terakhir sebelum Frey meninggalkan rumah sakit ternyata pasien sangat banyak mulai dengan kecelakaan massal kereta api yang ambruk sampai pasien stroke.  Dua dokter ini cukup berusaha keras menangani IGD dengan baik.  Arjuna tidak dapat melepaskan matanya dari sosok Frey.  Rasanya dia ingin ikut pergi ke pedalaman.  Rasanya tidak masalah juga asal ada Frey di sampingnya, itu sudah cukup untuk pasokan oksigen yang mengisi paru-parunya.  Namun Arjuna tahu bahwa Frey memang gadis keras kepala yang sangat sulit ditaklukkan.  Bagaimana tidak, nyatanya tujuh tahun tidak membuat kondisi mereka berubah.  Arjuna tetap menjadi sahabat Frey.

“Istirahat dulu Frey…ini jaga terakhir lo yang ampe pagi. Lo mesti jaga diri lo biar gak sakit nanti. Eniwei…mau makan apa malam ini. Hayoh kita pesen delivery service sebanyak-banyaknya” Arjuna menyodorkan beberapa pamflet makanan yang biasa mereka pesan. 

“IGD udah aman kan ya Jun. Barusan gw cek ke ICU dan pasien stroke yang barusan di operasi kondisinya udah mulai stabil.  Semoga besok udah bisa pindah ke bangsal yah.  Pasien-pasien cito karena tuh kereta ambruk udah gw cek semua.  Mereka aman di bangsal sekarang. Beberapa yang OP udah gw lihat tadi dan sementara aman. Semoga ampe pagi semuanya aman-aman aja yah.  Kasian semua perawat ampe bingung tadi. Thanks ya udah bantuin gw” Frey bicara sembari mengecek status pasien yang ada di catatan IGDnya.
 
“Frey…lo yakin akan ninggalin ini semua? Lo itu dinamis.  Pasien udah aman aja masih terus lo cek satu-satu ampe lo rela gak tidur.  Bahkan gak jarang gw lihat lo sempetin ngobrol ke keluarga mereka cuma untuk menenangkan hati mereka.  Besok kalau lo udah ninggalin ini semua dan lo kangen terus gimana? Disana ntar lo gak bisa pesen delivery service loh” Arjuna kini sudah berada di hadapan Frey dan membuat Frey melepas baju putih dokternya.  Dia tertawa lembut namun semakin lama semakin mengeras dan berubah menjadi tangisan lemah.

“Gw pasti bisa Jun. Gw yakin. Gw akan coba. Gw harus kesana. Ada sesuatu yang memanggil gw untuk kesana. Gw percayain neh rumah sakit ke lo. Gw yakin ntar lo bakal nemuin dokter lain yang lebih hebat dari gw”

“Huh…kalau lo kuat lo gak boleh cengeng kayak gitu. Neh…hari ini lo bebas pesan apa aja. Gw yang traktir” Arjuna menjawil hidung Frey seperti biasanya.

“Eh dasar maniak hidung lo. Awas lo!!!” Frey membalas jawilan hidung dengan cubitan di lengan yang membuat Arjuna meringis kesakitan. Sepertinya Frey lupa baru saja dia menangis sesegukan dan kini sudah berubah menjadi tawa yang kembali ringan.

“Yeeeh….sakittt dasar miss bookacholic” Arjuna mengatupkan tangannya ke mulut manyunnya yang keceplosan bicara.

“Daripada elo Mr.Jabrik yang hobinya ayam kremes. Eh apa ayam kampus ya. Hahaha” Frey sudah benar-benar tertawa lepas sekarang.

“Sorry yaaa…itu mah zaman gw masih cupu waktu mahasiswa dulu.  Sekarang rambut gw udah keren gak jabrik lagi.  Habis gw kapok karena dulu ada cewek yang ngefans banget naroh permen karet di rambut jabrik gw”

“Eit…maksud lo apa tuh. Kenapa tuh mata ngelirik ke gw. Udah sering gw kasih tau yah, gw cuma sekali ngejahilin lo naruh tuh permen karet tapi sisanya bukan gw. Mungkin aja banyak cewek lain yang gatel nglihat rambut lo yang bisa mereka jadiin tempat sampah” Frey makin ketawa lepas.  Untung saja semua pasien sudah dalam kondisi aman sehingga dua dokter itu berada di kamar istirahat dengan nyaman.

“Eh masih ada berapa yang di ruang OP tadi? Kita pesen 20 cukup gak ama perawat yang tadi bantuin kita.  Hmm….ayam bakar Pak Solo masih buka kan. Ama 20 box KFC deh” Frey langsung mengalihkan pandangannya pada Arjuna yang masih menatapnya.

“Busyeet…lo laper apa kesetanan Frey? Bisa semua perawat neh RS makan tuh. Apa perlu gw cek satu-satu semua perawat di bangsal yang masih melek” Arjuna ngejawil lagi hidung Frey. Nyaris saja Frey kembali mencubitnya keras kalau saja Arjuna tidak segera menelpon pesanan mereka.

“Okey…gak pakai lama ya” Arjuna menghentikan percakapan di telepon dan memberikan simbol okey dengan jarinya.

“Bentar lagi mereka datang. Yah…walau mereka bilang gak pake lama tapi gw yakin lebih dari setengah jam seperti biasa. Yuk…kabur dulu” Arjuna menarik tangan Frey lagi. Keduanya sudah kabur ke kafe Pelangi yang ada di kawasan rumah sakit.  Biasanya bila ada pasien maka dijamin kedua telepon genggam mereka akan berbunyi.

Keduanya memilih kursi di pojok kafe dan tentu saja memesan mie pelangi yang khas. Mie layaknya mie bungkusan yang dimasak sampai matang sekali dan dicampur telor dadar di atasnya. Menu sempurna untuk perut keroncongan di rumah sakit. Yah, mereka memang menyebutnya sebagai mie nyemek pelangi karena memang kafe ini diberi nama pelangi. Entahlah, pojok rumah sakit ini memang sering member nama yang aneh-aneh untuk setiap tempatnya.

“Lo gak bakal kangen mie pelangi neh ntar disana” Arjuna mengangkat garpunya untuk menikmati mie super yang sudah tersaji panas di hadapannya.

“Gw bisa bikin sendiri ntar disana”

“Emang ada mienya disana?”

“Ntar gw bawa sekardus dari sini”

“Beda dong, ntar lo gak bisa denger suara Mang Ayun kalau bikin neh mie. Kan dia punya jampi-jampi khusus.  Denger aja tuh lagu india selalu berdendang kalau dia bikin neh mie. Betul kan Mang Ayun…” Arjuna seperti meminta dukungan suara dari pojok dapur dan dibalas dengan nada lagu India yang bikin keduanya ngakak.

“Wah bener juga tuh…Mang Ayun…sini bentar. Saya mau rekam suara Mang buat kenang-kenangan” dan tidak lama keduanya sudah menikmati penampilan Mang Ayun mendendangkan Kuch-Kuch Ho Ta Hai dengan merdunya. 

“Tuh ampe gw rekam segala biar ntar bisa nemenin gw bikin neh mie pelangi” Frey mematikan rekamannya dengan bangga.

“Jangan lupa telepon gw terus yah Frey kalau udah nyampe sana”

“Hm…gw gak yakin nemu sinyal disana. Gw juga gak yakin ada listrik disana. Mereka udah ngasih gambaran tempatnya ke gw dan gw rasa itu super pedalaman”

“Frey…Oh My God. I never imagine you will survive. Okey…kalau lo gak bisa telepon gw, biar gw rekam suara lo ya buat kenang-kenangan” Arjuna segera menyalakan perekamnya bahkan video rekaman juga.  Dia sudah punya banyak video yang menyimpan wajah Frey namun dia masih ingin lagi…lagi…dan sepertinya dia ketagihan.

“Hahaha…gokil lo. Emangnya kayak gw gak balik aja. Tenang aja Jun, gw cuma bentar disana. Yah…bener kata lo…gw memang melarikan diri dari masalah yang sebenarnya tapi gw janji tahun depan gw akan disini lagi nemenin lo makan mie pelangi”

“Yeeeeh….siapa juga yang ngrekam lo…” Arjuna kembali ngejawil hidung Frey dan mematikan video perekamnya.

“Eh gimana mama papa Frey?”

“Yah…awalnya mereka gak ngebolehin gw pergi.  Jauh banget apalagi ada malaria disana. Mama masih terus aja nangis tapi gw bilang gw cuma pergi bentar”

“Trus Mas Bambang gimana?”

“Apaan sih lo…siapa yah dia?” dan keduanya pun tertawa.

“Lo kan tahu gw. Walaupun umur gw dah nambah banyak tapi memang gw masih gak pengen nikah. Terserah dia lah. Gw gak terlalu mikirin dia gimana ntarnya”

“Bener banget tuh…mending lo mikirin gw aja kan ya” Frey tertawa keras

“Busyeet Jun…lo gak pernah bosen ngegombal yah. Pantes aja semua perawat klepek-klepek dan ngejadiin lo dokter terganteng favorit mereka. Hahahaha”

“Yeh…lo kira tuh perawat cowok matanya gak nanar ngliatin lo terus. Frey…lo itu  gak sekadar cantik. Cantik BANGET malah” kali ini keduanya tertawa lepas. Memang kalau stress sudah menyerang keduanya lantaran pasien banyak yang gawat maka cara paling sempurna adalah tertawa lepas dan selalu saja rayuan gombal ini berhasil memacing tawa mereka.

“Untung gw udah makan obat anti hidrosepalus yah. Kalau gak kayaknya kepala gw bisa membesar denger kegombalan lo yang selama tujuh tahun nemenin gw” Frey menyeruput kopi jahe panasnya, minuman pelengkap mie pelangi yang sempurna.

“Eh Frey…papa lo memang dokter jantung yang hebat yah”

“Hmm…kok lo tau?”

“Iya neh masa senyuman anaknya bikin gw takikardi”  

“Eh Frey…jangan-jangan dulu papa lo awalnya pengen jadi dokter jiwa”

“Hahaha…kok lo tauuuu sihh” Frey meladeni kegilaan Arjuna.

“Suara lo selalu terngiang-ngiang lebih dari halusinasi dengar neh bahkan wajah lo selalu terbayang-bayang di di mata gw” Frey memegang perutnya, tertawa lepas seperti adonan telor yang dikocok.

“Stop deh Jun. Kayaknya lo mesti bikin buku Kegombalan Dokter Ganteng dan gw jamin akan laris manis di pasaran”

“Ya pasti laris…cewek manis di depan gw aja sekali beli 10 buku. Eh neh buat lo” Arjuna mengeluarkan kotak kecil dari sakunya.

“Apaan neh? Gw gak berharap cincin kawin yah”

“Wah kalau lo mintanya cincin kawin mah langsung gw pakaiin sekarang. Buka aja. Gak dilarang kok” kali ini giliran Arjuna menyeruput kopi jahenya.  Frey pun membuka kotak kecil tersebut dan sebuah IPOD mungil tersembul.

“Apaan neh…” Frey masih tidak mengerti mengapa Arjuna memberinya sesuatu yang sudah dia punya.

“Isinya semua kenangan kita. Kalau mendadak lo kangen gw disana dan gak nemu sinyal atau apapun, lo bisa nyalain itu. Asal lo janji gak nangis pas nyalainnya. Kalau lo nangis ntar ada raksasa ganteng ngejawil hidung lo” Frey kembali tertawa

“Thanks deh. Ntar gw mau beli kacamata anti tangisan atau kalau perlu headset anti air mata biar gak nangis pas nyalain ini. Tapi kayaknya kegiatan gw disana bakalan sibuk banget jadi gw berharap seh gak kangen ke lo”

“Asal lo gak nglupain gw aja” Arjuna memperlihatkan deretan gigi putihnya sambil nyengir kuda.

‘Udah yuk…balik ke depan. Pesenan kita buat tim udah nyampe mungkin” Frey mengalihkan pembicaraan dan keduanya pun meninggalkan kafe Pelangi yang semakin sepi jika malam sudah memanggil.  Ah rumah sakit memang selalu menyimpan misterinya termasuk ketika dua dokter itu digosipkan sebagai sepasang kekasih toh tidak mengubah status di antara keduanya yang memang sahabat.

*continued to Chapter 2 ^_^