Senin, 23 Januari 2012

Chapter 10

CHAPTER 10

Bila sebelumnya Arjuna sudah mempunyai banyak penggemar karena berbagai pesonanya, rasanya sekarang lebih dari sekadar penggemar.  Ada yang berubah memang dari wajah Arjuna akhir-akhir ini setelah sebulan uring-uringan karena berpisah dari Frey, dalam sekejap berubah total semenjak surat pertama Frey mendarat di kotak pos rumah sakit.  Arjuna tidak habis pikir mengapa harus dikirim ke alamat RS dan bukan rumah pribadinya.  Sepertunbya Frey sengaja membuat Arjuna makain terkenal jika nantinya didatangi petugas pos tiap bulan. Arjuna sendiri tidak menyangka seumur hidup akan menerima surat pribadi bersampul ungu.  Tidak butuh waktu lama bagi Arjuna tahu siapa pengirimnya ketika amplop ungu tersebut sudah benar-benar di tangannya. Tulisan khass wanita yag slama bertahun-tahun menemani harinya sudah dihafal mati oleh cerebellum Arjuna.
Arjuna tertawa kencang sambil geleng-gelang kepala membuat perawat yang ada di sampingnya terkejut.
“Kenapa dok? Habis menang undian ya”
“Iya neh Bu.  Undian cinta. Saya off dulu ya Bu. Operan ama dokter Winda setelah ini” beruntung surat sampai di kala Arjuna selesai tugas jaga pagi.
Ternyata buka hanya amplopnya yang bagus, kertas suratnya pun bagus dan wangi.  Arjuna kembali seperti zaman SMP di saat masih saling berkirim surat demi cinta monyet.  Kali ini terulang kembali bahkan adegan mencium aroma kertas surat juga.
Arjuna bahkan mengemudikan mobilnya kencang karena ingin segera sampai di kamarnya dan membaca surat pertamanya dengan suka cita.  Dilemparkannya tas ransel kesayangannya, hadia ulang tahun ke-25nya dari Frey.  Tanpa membuka sepatu, Arjuna langsung membenamkan dirinya di atas kasur empuk membaca surat Frey.  Selang berapa menit, segera saja dirinya bangkit dari kasur empuk ketika membaca bagian dimana Frey tidur tanpa empuknya kasur.  Arjuna berpindah ke meja kerjanya dan melanjutkan surat yang sedari tadi menawan hatinya, sama seperti hari-hari sebelumnya, dirinya makin tertawan dalam diri Frey. 
Arjuna sudah sering menangis bahkan tangisan untuk Frey sudah tidak terhitung lagi berapa kali namun kali ini dia ingin menggenapkan tangisannya. Antara kerinduan, kebanggaan, dan suka cita bercampur baur menjadi satu saat lembar demi lembar surat Frey menemaninya.
Teringat jelas di depannya Frey menuliskan surat tersebut bertemankan lilin.  Ingin rasanya Arjuna kabur ke Sumba saat itu juga agar dapat menjawil hidung Frey.
“Dasar miss bookacholic…lo survive juga di sana” tidak jarang Arjuna mulai bicara sendiri seakan Frey ada di hadapannya untuk menceritakan langsung semua kisah Sumbanya.
Dan Arjuna tahu bagaimana membalas surat berlembar-lembar ini.  Dia tahu kelemahannya adalah menulis dan jujur dia lebih memilih mati daripada menulis panjang lebar seperti yang dilakukan Frey. Bukan karena tidak ingin membalas, tetapi kebiasaan Arjunalah yang memang berbeda.  Dia benar-benar tidak terlalu suka menulis kecuali menulis resep untuk pasiennya dan jelas tidak mungkin surat panjang ini haya dibalas sepatah dua patah kata saja.  Menyuruh orang lain menuliskan suratnya jelas akan membuat Frey meradang karena dia hafal mati coretan tangan Arjuna.
***

Frey terkejut melihat paket kardus besar sampai di depan kliniknya. Supirnya kini menjadi orang paling sibuk karena berulang kali mengantarkan pesanan Frey termasuk bila Frey mendapat kiriman paket seperti sekarang ini.
“With love from Arjuna” Frey tertawa nyaring membaca tulisan di sampul pengirimnya.
“Dasar si jabrik. Pede banget nulisnya” dan Frey pun bergegas menarik kardus berat ke dalam kamar.
Klik…klik…klik…kilatan kamera terdengar merdu.  Frey mulai terbiasa mengabadikan apapun dengan kameranya termasuk surat yang akan dikirim atau barang kiriman yang dia terima.  Perlahan namun pasti, tangan lembut Frey membuka sampul kertas cokelat yang membalut kardus besarnya. Perlahan merobeknya hingga tampak semua isinya yang membuat Frey membuka mulut lebar.  Buku-buku pesanannya bulan pertama tiba.  Frey nyaris melonjak kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan gula-gula.  Bahkan Arjuna masih menambahkan beberapa buku best seller dan Koran ternama kesukaan Frey yang memuat berita headline agar Frey tidak tertinggal berita. 
Puas membongkar semua buku, kini mata Frey penasaran dengan satu kotak kecil yang tersembul dari buntalan kertas-kertas. Segera Frey buka dan ternyata tape recorder mini yang tersembul.
“Push here Frey” Dan Frey menekan tombolnya.
“Dasar TOMAATT!!!” Suara sopran milik Arjuna langsung terdengar memekik dan Frey otomatis menjauhkan alat rekam itu dari telinganya.  Frey ingat itu julukan lamanya ketika setiap kali bertemu Arjuna mukanya selalu memerah seperti tomat dan memang selalu saja jus tomat yang dipesan jika keduanya makan bersama.
Tidak terdengar suara lagi sejenak, sepertinya Arjuna memang sengaja memberi jeda karena tarikan napasnya terdengar lembut, nyaris menyentuh kulit putih Frey.
“Pertama: Lo mau ngebunuh gw ya dengan surat lo yang super panjang itu? Lo tau sendiri Frey kalau gw paling gak bisa nulis panjang.  Kan lo saksi mata gimana gw dulu terpaksa bayar orang untuk ngerjain tugas-tugas gw yang berhubungan dengan laporan wajib tulis tangan. Tapi, hebatnya dari surat lo, otak gw kepikiran ide ide rekaman ini” suara Arjuna masih berpura-pura membentak dan membuat Frey mati tertawa.
“Kedua: Kenapa mesti dikirim ke alamat RS seeeh??? Ohh…gw ngerti…lo memang gak pengen cuma gw aja kan yang tetap tenar di RS setelah lo tinggal, jadi lo bikin trik ngirim surat lewat RS kan” kali ini Frey tertawa hingga keluar air mata, terasa seperti nyata sekali suara-suara lantang Arjuna.
“Ketiga: Gimana kabar lo my sweety?” kali ini Frey mati gaya karena nada suara Arjuna berubah menjadi sangat romantis. Bahkan seingat Frey tidak pernah kalimat sederhana Arjuna teerasa sangat menusuk seperti ini.  Mungkin selama ini Frey selalu menganggap semua perkataan Arjuna hanya bercanda saja.
Kali ini di kala dirinya terpisah jarak dan tidak bertatap muka lama, ternyata satu kalimat lembut Arjuna mampu membuat Frey jatuh terjerembah dalam jurang bernama jatuh cinta.
“Harusnya gw di sana buat mijetin tangan lo yang pastinya udah hancur karena terus-terusan timba air. Eit…jangan marah duluan dong. Iyaaaah gw ngerti harusnya gw disana bantuin lo timba air yah tapi Frey seumur hidup gw belum pernah lihat alat timba, gw ngertinya alat jungkat jungkit doang zaman TK.  Gw mending bayar penduduk sana yang kuat aja deh buat bantuin lo timba air setiap hari. Kalo lo gak sibuk timba kan artinya kita punya waktu lebih banyak untuk santai di pantai. Eit…kan pasien lo tetep banyak yah. Frey…Frey.,..emang ya, berlian tetap aja berlian. Mau di kota gedhe kek ampe di pedalaman sekali pun tetap aja berlian, selalu dicari orang. That is you sweety. Kalau dipasang tulisan jam kerja gitu ngaruh gak ya buat pasien-pasien lo. Hmm….tapi mereka bisa baca tulisannya kagak ya Frey. Hadoh…gimana yah solusinya.  Kayaknya Frey yang gw kenal lembut mesti sedikit galak deh biar pasien lo lebih disiplin.  Pasang aja jam kerja lo dan kalau memang mereka datang sebelum waktunya yah terpaksa lo biarin aja kecuali kalau memang cito banget.  Gimana ide gw Frey? Eh lo gak bisa langsung jawab yah. Tapi gw lihat kok lo angguk-angguk kepala” Frey segera menghentikan anggukannya. Arjuna memang cerdas dan idenya cemerlang menurut Frey. Dia bahkan tidak terpikirkan untuk mencari solusi itu karena terlalu lelahnya.
“Busyet dah Frey, kayaknya habis ini gw bakalan daftar jadi pasien pertamanya si Nadia deh. Bayangin aja mana ada orang yang lebih gila dari gw.  Ngomong sendirian ama alat perekam selama berjam-jam biar kagak ada putri cantik yang ngambek di Sumba sana.  Gw jamin Nadia bakal guling-guling ngakak dan ikutan stress lihat kita sekarang Frey. Benar-benar gila gw sekarang. Apa gw mending ngrayu supervisor lo aja ja biar lo bisa dapat libur ke kota dan ngejawab semua omongan gw ini secara langsung. Atau perlu gw bangun menara sinyal di pedalaman lo Frey. Ups…gw lupa, lo aja masih belum kesentuh listrik ya, percuma juga bangun menara sinyal karena telepon lo juga gak bisa dicas kalau baterainya habis” Frey tertawa terbahak.  Dirinya pun tidak pernah membayangkan akan hidup di tempat terpencil seperti ini.  Namun Frey bersyukur bahwa dia tidak harus menempuh perjalanan dengan kapal laut untuk mencapai pulau ini.  Nyaris saja dia ditempatkan di pulau yang lebih terpencil lagi dari tempatnya sekarang.  Hanya dapat ditempuh oleh kapal laut ukuran sedang yang jam berlayarnya jelas tergantung cuaca dan artinya boleh jadi ada kapal berlayar sekali saja dalam seminggu, itu pun selama 5 jam perjalanan dari tempatnya berdiri sekarang.
“Gw bisa bayangin lo di sana keren banget Frey.  Berhasil hecting robekan kepala yang besar dengan jahitan sesempurna lo di ruang operasi kita, padahal…lo cuma pakai senter.  Gw bisa bayangin lo pasti kesel banget kalau orang yang lo suruh pegang senter itu salah ngarahin cahayanya.  Emosi tingkat tinggi tuh. Gilaaaa….lo emang gila Frey! Sekali mencintai pisau bedah maka tetap aja lo mau lari sampai pedalaman pun dikejar ama tuh pisau. Ups…gw lupa lo cuma pakai silet yang disteril alkohol yah.  Gila…setajam SILET” Arjuna mempraktekkan slogan gosip terkenal di salah satu stasiun televisi.  Ah bahkan Frey tidak ingat sudah berapa lama dia tidak pernah melihat televisi.  Jangankan menontonnya, melihat rupanya saja tidak pernah kecuali saat berkunjung ke rumah bapak desa yang sudah terjamah listrik.  Itu pun masih dibantu dengan parabola sebagai penangkap sinyalnya. Aneh memang, rumah bapak desa tempatnya bertugas berada di bibir jalan yang masih ditumbuhi tiang-tiang listrik subur.  Bahkan jika listrik mengalami pemadaman sekali pun, sudah tersedia generator sebagai pembagkit tenaga listriknya.  Genset, begitu mereka menyebutnya.  Berbeda dengan rumah penduduk desa lainnya dan juga tempat Frey tinggal.  Dia masih beruntung disediakan kaca sinar yang setiap siang harus dijemur agar dapat menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi arus listrik di kala malam tiba.  Walau terkadang lampu mataharinya hanya menyala beberapa jam saja sebelum akhirnya benar-benar mati menjelang tengah malam.  Frey tertawa, banyak hal yang berbeda dari apa yang dijanjikan ternyata namun inilah hidup, tidak semua yang kamu inginkan langsung dikabulkan oleh Tuhan. Dia memberi apa yang memang kamu butuhkan dahulu, bukan apa yang kamu inginkan.
“Oh ya Frey, surat mungil lo untuk mama udah gw sampaiin.  Bener dugaan lo, baru surat satu lembar aja mama udah mewek nangis mulu di depan gw.  Oh ya, tugas mulia dari lo udah gw kerjakan dengan sempurna.  Bahkan dosen yang buta huruf sekali pun harusnya bakalan ngasih nilai A plus karena kesempurnaan tugas gw. Ups…soalnya berita sekarang lagi ramai tentang jual beli ijazah Frey. Bahkan parahnya ada juga dokter-dokter dengan ijazah palsu bertebaran praktek.  Serem banget yaah. Kita aja ampe ngos-ngosan belajar bertahun-tahun eh masih ada orang yang tega gak bertanggung jawab.  Kalau dari awal aja udah curang gimana saat dia jadi dokter yah. Gimana ilmu dan tanggung jawabnya tuh. Ah…tuh kan Frey…kalau ama lo obrolan gw jadi sering melebar kemana-mana. Lo terlalu pintar untuk gak ngikutin semua perkembangan berita.  Gw jamin pasti tuh koran dengan headline-headline khusus gak lama lagi habis lo lahap. Sampai gw inget lo pernah baca lowongan iklan di koran karena saking semua bagiannya udah lo baca dan gak ada lagi bagian lain” Frey tertawa. Dia memang sering melakukan hal konyol di depan Arjuna. 
Menunggu ujian zaman perkuliahan di kedokteran dahulu bukan hal yang mudah karena menunggu artinya adalah benar-benar menunggu para konsulen selesai dari rutinitas wajib mereka dan melirikkan matanya melihat bahwa ada para calon dokter yang berjam-jam menunggu hanya untuk ditanyai beberapa pertanyaan.  Hitungan jam masih bagus, ada kalanya menunggu benar-benar menguras kesabaran karena artinya kamu akan mengikuti kemana pun konsulen pengujimu pergi hanya untuk (lagi-lagi) dilirik dan konsulenmu pun ingat bahwa kamu membutuhkan ujian itu untuk lulus menjadi dokter.  Terkadang bukan satu atau dua jam melainkan berhari-hari.  Bahkan ketika suah detik-detik menghadap untuk diuji sekali pun dapat dibatalkan bila sang konsulen harus menangani pasien.  Memang, pasien adalah yang utama dari semua termasuk menguji seorang calon dokter sekali pun. Sedari kuliah hingga praktek di rumah sakit selalu saja diajarkan mental untuk bersabar.
Jika sudah jenuh menunggu maka banyak hal konyol terjadi.  Buku-buku tebal yang semalaman dibaca bahkan tidak jarang dirangkum menjadi buku-buku kecil yang tetap saja tebal mulai ditutup.  Lalu dibuka lagi jika sepertinya aka nada panggilan dari sang konsulen.  Aneh memang para calon dokter itu.  Mereka sudah belajar setiap hari dengan melihat dan bersentuhan langsung dengan para pasien namun tetap saja ketika ujian tiba maka setumpukan teori harus mereka baca kembali dan sepertinya tidak pernah habis.  Bahkan semakin banyak membaca semakin lupa sehingga beberapa di antaranya memilih untuk tidak membaca agar tidak lupa. Frey termasuk salah satu keanehan juga.  Dia tipe pembelajar yang terlalu percaya diri bahwa apa yang selama ini sudah dipelajari bersama pasien-pasiennya dulu adalah waktu yang terbaik untuk mencocokkan teori dengan kenyataan.  Dia merasa saat itulah dia sudah belajar dan ketika ujian dia hanya perlu berdiam diri di kamar merenungi pasien apa saja yang pernah ditemui dan ditanganinya.  Hanya merenung sembari tangannya bergerak mencatat apa yang ada dalam zona perenungannya.  Ketika teman-teman lainnya menggelar acara belajar bersama sampai subuh, Frey malah terlihat bersantai.  Gilanya lagi, ketika teman-temannya masih berulang kali membuka buku, dia malah membaca koran.
“Busyet lo Frey…orang lain belajar lo malah baca koran” Arjuna hanya mengamati tingkah konyol Frey sementara teman lainnya yang masih sibuk dengan hafalan mereka seperti tidak ingin diganggu.
“Eh lihat deh Jun, seorang janda berumur 42 tahun dengan dua anak dan hidup berpenghasilan 20 juta/bulan mencari seorang laki-laki yang bersedia membahagiakannya, boleh perjaka atau duda” sontak mau tidak mau teman-teman yang masih sibuk membaca pelajaran menutup bukunya dan merespon kalimat Frey.
“Wah boleh juga tuh. Ntar duit bulanan dia dipakai untuk cari wanita lain yang kagak janda” Roy temannya yang hobi silingkuh menimpali.
“Eh tapi kalau si janda ini umur 42 tahun berarti masa menopausenya masih lumayan lah 10 tahun lagi. Kira-kira kalau dia hamil ama lelaki yang ntar menikahinya, kehamilan dia harus gimana ya.  Apa aja yang nantinya jadi penyulit kehamilan dia ya” dan pancingan Frey berhasil.  Perlahan, jawaban teman-temannya keluar, memadukan teori dengan praktek sehari-hari. Frey hanya sesekali menimpali dan lebih banyak mendengar teori dari teman-temannya yang menurut Frey sudah belajar lebih keras dari Frey. Begitulah caranya belajar, dia lebih senang berdiskusi dan mendengarkan.  Kegiatan menunggu konsulen penguji obsetrik dan ginekologi pun tidak terlalu membosankan. 
“Frey…lihat koran lo.  Penasaran gw ama iklannya” Arjuna mengambil koran di tangan Frey ketika ujian telah selesai.  Frey hanya tertawa.
“Jun lo tau gw. Mana ada koran nasional dengan berita perpolitikan yang makin memanas memuat iklan begitu.  Gw stress aja lihat orang-orang belajar kayak kesetanan gitu. Belajar itu harus dinikmati, gak boleh penuh tekanan.  Nyatanya, teori mereka akhirnya keluarkan kalau langsung kita aplikasikan ke kehidupan sehari-hari. 
“Yeh…gw udah curiga ini pasti akal-akalan lo aja”
“Lo tau gak tadi di dalam gw ditanya apa ama penguji. Pertanyaan keseharian banget yang sederhana kalau gw pikir tapi gw ngejawabnya bisa ampe nguras semua isi kepala tentang 3 bulan pembelajaran ilmu kandungan”
“Lo dapat kasus apa memangnya?
“Prolaps Uteri. Prof Yan nanya ke gw bahkan berpura-pura menjadi pasien di depan gw. Seorang ibu dari kalangan tidak terpelajar datang dirujuk bidan ke puskesmas gw setelah melahirkan ditolong bidan sehari yang lalu.  Dia datang memegang perutnya dan mengatakan ada yang keluar.  Dari cir-cirnya gw tau itu prolaps uteri tapi Prof kemudian tanya kalau si ibu takut ama tindakan yang sudah gw jelasin sebagai penangannya. Dari hanya sekadar prolaps uteri bisa nyampe ke proses SC dan kontrasepsi karena ternyata tuh ibu usianya 42 tahun.  Teori-teori yang baru aja kita bahas ampe infertilitas ternyata yang ditanyakan. Ketika Prof Yan tanya sesuatu yang gw tahu dan gw pelajari akhirnya gw bisa jawab dengan penalaran gw.  Beruntung banget kayaknya gw”
“Bener banget tuh Frey. Apa yang kita bahas di detik-detik terakhir lantaran iklan gombal lo itu ternyata gak jauh beda ama pertanyaan dari Prof Edi.  Belajar banyak tapi dapat kasus yang pas gak lo baca kayaknya lebih merana deh daripada kita yang cuma belajar sambil dengerin tapi ternyata itu yang ditanyakan”
Bagaimana Frey dapat melupakan hari-hari pertama melewati stase kandungan bersama Arjuna itu karena setelah itu banyak yang memilih belajar bersama Frey, sederhana tapi masuk ilmunya. Padahal sebenarnya Frey yang memanfaatkan mereka karena memang Frey bukan tipe pembelajar yang harus selalu melihat buku selama 24 jam.  Dia lebih belajar dari pengalaman.  Ketika dia mendapatkan kasus kelahiran bayi sungsang di rumah sakit maka dia akan pelajari sampai detail kenapa si bayi sungsang bahkan sampai hal detail yang terlewatkan oleh teman-temannya.  Bagaimana cara bayi sungsang bernafas dan segala hal yang terkadang membuatnya terus membuka lebar mulutnya karena dia mencari hubungan segala hal dengan keberadaan Tuhan.  Apakah yang selama ini terjadi dalam proses penciptaan bayi itu memang merupakan komunikasi pertama manusia pada Tuhan? Dan Frey tahu dia masih terus mencari jawabannya hingga sekarang. 
“Frey…lo gak lagi memutar semua memori iklan si janda di stase kandungan kan” suara lembut Arjuna menyadarkan lamunan Frey.  Arjuna memang selalu dapat menebak kemana arah pikiran Frey walaupun Arjuna lebih banyak memancing Frey.  Celetukan ringannya terkadang yang membuat Frey berpikir kritis dan akhirnya belajar banyak lagi.  Jika sudah begitu, Frey akan mengemukakan analisis panjang dari celetukan ringan saja.
“Sebulan ini gw gak terlalu intens sebenarnya nengokin mama karena ternyata mama sekarang lebih sibuk Frey.  Hmm…menurut gw sepertinya memang mencari kesibukan lebih biar gak kangen ama anak-anaknya.  Tapi yang lucu malah sekarang gw kayak bodyguard pribadi mama. Bahkan kalau pas lagi gak ada jaga RS, gw nemenin mama ikut arisan. Seumur-umur gw aja selalu kabur kalau nyokap gw bikin arisan di rumah karena ogah jadi bahan pembicaraan alias jadi bintang. Nah ini…malah gw hanyut dalam rutinitas mama lo.  Ternyata arisan seru juga ya Frey.  Kayaknya semua skandal keluarga bisa terungkap tuh di arisan.  Kocokannya cuma lima menit tapi rumpinya bisa tiga jam.  Tapi karena kemaren gw datang untuk yang pertama kalinya, mereka malah jadi banyak curhat masalah kesehatan termasuk tip membuat si suami tetap setia. Wadoh…gw nyaris tepok jidat Frey. Jadilah arisan itu konsultasi kesehatan live show gw.  Tiga jam bo meladeni semua pertanyaan aneh para ibu tentang. Kata mereka gw suruh lanjut jadi dokter kandungan aja karena gaya gw ngejelasin penyakit enak banget. Dan akhirnya gw disuruh sering-sering mampir kalau ada arisan bulanan lagi” Frey tertawa terbahak membayangkan Arjuna si tampan dikelilingi para ibu pejabat yang kalau dandan malah bikin suaminya takut.
“Terus Frey…gw juga nemenin mama belanja, bukan di swalayan tapi di pasar tradisional. Kebayang gak seeehh…seumur-umur kan gw cuma pernah nemenin lo belanja waktu pengen bikin kejutan ultahnya si Nadia.  Tapi karena ini tugas mulia dari lo maka gw harus menjalaninya. Ternyata seru juga yah belanja ama emak-emak. Semua harga sayuran yang menurut gw udah murah ternyata masih ditawar juga. Sekarang gw ngerti bakat nawar lo itu ternyata nurun dari mana” Frey menangis karena terlalu banyak tertawa.  Dia ingat memang saat itu dia menawar semua hal di pasar tradisional.  Rasanya puas aja kalau dapat menawar harga walau hanya turun seribu rupiah dan kalau dipikir-pikir bukan masalah besar bagi Frey.
“Sebenernya gw yang harus makasih ke lo Frey. Selama ini gw terlalu sibuk gak pernah care ama nyokap gw sendiri dan ketika gw didaulat untuk sering nemenin mama, gw jadi tahu bagaimana harus membahagiakan nyokap gw.  Selama ini gw salah kalau hanya menilai segalanya dari materi padahal bego banget kalau apa yang gw kasih ke nyokap gw udah ngebalikin semua yang dia kasih ke gw. Thanks ya sweety…lo bikin hidup gw lebih manis di sini.  Saat lo balik nanti, gw siap jadi suami…eh maksud gw, gw tahu bagaimana kehidupan pernikahan itu nantinya” Arjuna meralat kalimat terakhirnya agar Frey tidak tersinggung padahal jauh di ujung sana kembali muncul wajah si tomat, memerah.
“Tentang papa lo, dia masih tetap aja sibuk Frey. Lo tau sendiri urusan RS banyak yang gak bisa ditinggal jadi seringkali papa lo turun langsung ngurus detailnya.  Kemarin gw diajak ngomong pribadi ama papa. Dia minta gw resign dari RSUD dan bantu papa di RSnya.  Wah…melayang rasanya gw”
“Ambil aja kesempatannya Jabrik…” Frey ikutan mengomentari jeda cerita Arjuna.
“Gw masih minta waktu untuk mempertimbangkan tawaran papa lo Frey. Gak mudah ninggalin RS kita kecuali gw kaburnya untuk alasan seperti lo. Mungkin baru akhir tahun gw bisa bantu papa lo.  Sementara malah gw rekomendasiin temen kita si summacumlaude Sigit. Masih inget kan lo ama temen kita yang otaknya kamus berjalan itu.  Gw masih penasaran tuh anak makannya apa yah bisa pinter kongenital gitu.  Tapi menurut gw lebih pinter lo Frey…pintar memanfaatkan kondisi.  Papa lo kayaknya sedikit kecewa dah karena lo lebih memilih RS lain dan sekarang malah kabur ke pedalaman. Iya Frey…gw ngerti gak gampang berdiri di kaki lo sendiri dan gak selalu dipandang dari anak siapa lo itu” Frey termenung mengingat kembali perselisihan kecil dengan papanya dua tahun silam saat dirinya memutuskan untuk bekerja di RSUD dan bukan di RS miliknya sendiri.  Berdiri di kaki sendiri tanpa bayangan orang tua memang bukan hal mudah.  Di luar sana orang mengira hidupnya sebagai anak pemilik RS akan mudah namun Frey sudah memutuskan dari awal untuk menjauhkan bayangan papanya. Dia ingin menjalani proses tanpa adanya campur tangan di bawah meja walau jujur sampai sekarang Frey tidak mengerti apakah diterimanya di RSUD masih ada campur tangan papanya. Maklum Direktur yang sekarang ternyata teman lama papa Frey. Tapi Frey menyangkal karena dia memang menjalani semua prosesnya termasuk ketika fit and properties dalam ujian wawancara. Frey tidak ingin orang menganggap dirinya masuk dengan mudah hanya karena dia “titipan” papanya. Beberapa teman dokternya ada yang seperti itu juga dimana dia  tinggal masuk saja hanya berbekal sebuah surat tanpa melewati semua prosedur di atas.  Frey ingin terbang bebas dan kali ini keputusannya untuk pergi jauh ke pedalaman memang salah satu cara membuktikan ke papa kalau Frey sanggup berdiri di atas kakinya sendiri.
Frey larut dalam kenangan masa lalunya, lama tidak terdengar suara Arjuna ternyata kaset side A sudah selesai berputar dan harus diganti side berikutnya.
“Frey ambil gitar lo. Kita nyanyi bareng lagu favorit kita ya” dan Frey langsung meraih gitarnya, membenambkan jemarinya dan memetik indah senarnya.  Keduanya menyanyi bersama dalam tempat dan waktu yang berbeda tapi Frey sudah tidak terlalu perduli, dentingan senar menghasilkan lagu duet Two Occasion yang indah. Seindah matahari yang mulai terbenam dan artinya tidak lama lagi Frey harus mempersiapkan lilin khususnya.
            “Cause every time I close my eyes, I think of you” Frey tahu Arjuna paling suka bagian ini dan setiap kali dia menyanyikannya di hadapan Frey selalu saja dengan mata berbinar.  Kali ini Frey yakin dia dapat melihat mata itu lebih berbinar, cinta itu masih tetap besar seperti puluhan kali Arjuna menembaknya hingga akhirnya dia memilih untuk berdamai dengan keadaan dan menjadi sahabat Frey terbaik yang pernah Frey punya setelah Nadia.
“Hmm…gak ada yang gedorin pintu kamar lo kan Frey karena denger suara lo. Gw bercanda, paling kalau ada juga mereka gedor Cuma buat bilang lagi-lagi-lagi-lagi. Kan suara lo emang bagus Frey apalagi petikan gitar lo. Kalah deh gw. Eh tapi kalau lo balik, dentingan gitar gw lebih jago kayaknya.  Gw jadi mau ambil kursus jazz, itu kalau jadwal gw nemenin nyokap gw, mama lo dan jaga RS masih sedikit berdamai ya.  Suasana di RS sedikit kacau Frey atau gw yang kurang bersemangat setelah lo pergi ya. Waktu dulu lo masih ada kan gw punya alasan untuk datang tiap hari ke RS. Minimal kalau gw lagi gak jam jaga kan gw bantuin lo jaga. Ups…gangguin lo lebih tepatnya.  Sekarang mah gw lebih sering minta tukeran jaga kalau ketiban shift pagi atau sore biar gw lebih banyak waktu untuk nemenin orang-orang tercinta gw.  Gak lama setelah lo pergi, satu persatu dokternya juga pergi Frey.  Adi resign karena dia keterima PPDS Bedah Saraf.  Gila tuh partner lo, semangat banget dan pantang menyerah demi bedah saraf.  Padahal lo tau sendiri pertanyaan paling sulit dari konsulen bedah saraf pas ujian wawancara”
“Apa kamu sudah siap menghadapi kematian pasien yang nantinya kamu operasi?” Arjuna menirukan salah satu suara konsulen bedah saraf dengan berwibawa.
“Dan Adi bikin jawaban yang mantap.  Bahkan 7 hari 7 malam masih kurang deh buat dengerin setiap detik berharga yang dia lalui sampai akhirnya keterima di bedah saraf” Frey tersenyum, akhirnya berhasil juga Adi meraih mimpinya.  Dia benar-benar sedang menjalani proses panjang menjadi dokter spesialis bedah saraf.
“Ups…lo gak boleh mupeng ya Frey. Gw tau satu-satunya yang bikin lo sangat bersemangat memang pisau bedah tapi gw gak pengen tiba-tiba lo kabur dari sana Cuma karena pengen nyusul Adi ke bedah saraf.  Lo tiba-tiba ngacir ngurusin malaria aja udah bikin gw kehilangan apalagi kalau lo ambil yang berbau pisau, lo bakal gak punya waktu untuk nulis surat. Atau jangan-jangan lo udah jatuh cinta ama Anopheles yah. Hati-hati Frey, kan yang gigit lo Anopheles betina tuh jadi gw gak yakin orientasi cinta lo udah berubah.  Bisa repot ntar Mas Bambang” kalimat Arjuna membuat Frey merindukan saat-saatnya di rumah sakit dan membantu para konsulen di meja operasi.  Baginya tidak masalah berdiri berjam-jam hanya menjadi asisten operator saja.  Menyenangkan sekali rasanya ikut ambil bagian dalam menyelamatkan nyawa seseorang yang hanya bergantung pada ketelitian sang pemegang scalple.
“Eh dua hari sebelum surat ungu lo nyampe sebenarnya gw super lemes Frey.  Gw kebanjiran pasien malam ampe gak tidur sedetik pun.  Semuanya pasien tua dengan komplikasi jantung dan ini rekor gw ngelakuin RJP 5 pasien dalam satu malam.  Tiga selamat dan masuk ICU sementara yang dua terpaksa gw kirim ke ruangan belakang” Frey tahu yang dimaksud ruang belakang adalah kamar mayat. Para dokter sering menggunakan banyak istilah agar lebih sopan dan tidak terdengar menyeramkan.
“Bahkan gw masih ingat anak si pasien narik tangan gw kenceng banget pas gw mau mulai RJP. Dia gak mau dada bapaknya ditekan-tekan kayak yang dia lihat di film-film mungkin Frey. Gw udah jelasin prosedur penyelamatan yang memang begitu tapi tuh anak kayaknya gak ngerti juga.  Untung aja ibunya pengertian dan tuh anak ditarik keluar. Menghambat aja tuh anak padahal satu detik berharga banget untuk menyelematkan bapaknya.  Walau kita gak pernah tahu pertolongan kita masih dapat membuat malaikat menghentikan tugas pencabutan nyawanya, kita tetap harus melakukan itu” Frey mendengus, tidak mudah memang menyakinkan keluarga pasien akan tindakan yang akan kita lakukan.  Terkadang banyak dokter gagal dalam masalah komunikasi dan dengan mudahnya keluarga pasien melontarkan kata-kata malpraktek tanpa mereka tahu apa esensi dari yang mereka katakan.
“Kita tahu sendiri gimana susahnya pacu jantung. Mereka kira gampang kali yah hanya nekan-nekan dada dengan dua tangan yang ditumpuk aja. Padahal tiap tekanannya kita hitung kedalaman dan kecepatannya bahkan jumlahnya. Lebih gila lagi tiap satu tekanan otak kita akan berpikir apalagi yang harus disipakan kalau tekanannya masih belum membuat jantung berdetak bagus. Yah kalau bagus pasien cuma butuh 30 kali dan stabil tapi kan kadang lebih belum lagi ditambah berbagai obat-obatan suntik. Untung rekaman jatungnya gak nyampe harus defibrilasi. Akhirnya tuh pasien selamat Frey setelah badan gw banjir keringat. Ini lebih cepat ngluarin keringat dibandingkan fitness gw.  Belum ada setengah jam kelar urusan tuh pasien yang akhirnya gw rujuk ke anestesi, datang lagi pasien yang serupa tapi tak sama. RJP lagi.  Rasanya gw pengen teriak manggil nama lo biar lo bantuin gw. Kayaknya gw lupa baca doa deh biar IGD aman. Beruntung besok paginya gw gak ketiban rolling di poli jadi bisa tepar seharian” Frey cuma angguk-angguk aja. Tidak ada dokter yang ingin pasiennya datang dalam kondisi jelek bahkan memerlukan RJP tapi jika sudah ada pasien seperti itu harus sekuat jiwa dan tenaga berusaha memberikan pertolongan maksimal.
“Eh Frey…udah dulu ya sweety. Gw dah laporan semua perkembangan dunia luar ke lo. Ntar kalo lo ke kota dan dapat sinyal jangan lupa langsung hubungi mama papa yah. Mereka kangen berat ke lo sama kayak gw. Kalau masih pakai metode komunikasi kayak gini gw gak yakin deh kita berdua bakal lolos jadi pasien jiwa si Nadia deh. Lo udah segeran lagi kan. Kalau disana ada yang bikin lo kesel, nyalain aja I-Pod yang dulu pernah gw kasih.  Semua banyolan kita ada di sana” Frey nyaris lupa dia masih punya i-Pod pemberian Arjuna. Selama ini dia terlalu sibuk hingga lupa menyalakannya.
“Gw pengennya sih ngrekam suara gw mulu Frey tapi neh kaset udah nyampe putaran terakhir deh.  Sebagai penutup, gw nyanyiin lagu special buat lo ya. Kali ini biar gw yang iringin gitarnya sendiri.  Bentar gw ambil gitar dulu” dan terdengar suara langkah Arjuna sedikit berlari mencomot gitar di lemarinnya.
“Lagu lama Bee Gees yang bikin lo pengen cepatan pulang pastinya buat nyanyi bareng gw disni. Eh..salam dari Mang Ayun buat lo Frey.  Kan lo pelanggan malam favoritnya.  Dia udah mulai ganti lagu bukan india tuh, tapi dangdut” keduanya tertawa membayangkan mie nyemek Pelangi sekarang berubah cita rasa dangdut, sepertinya akan semakin bergoyang lidah para pelanggannya.
“Salam juga tuh dari Tade. Dia nanyain kapan lo balik nongkrong di kafenya. Salam juga dari Mang Amin tuh karena mobil lo kagak pernah keliatan lagi di parkiran.  Gw heran ya Frey, jelas-jelas lo dah pamitan ama mereka semua tapi tetep aja dikiranya lo masih di sini Frey. Busyet dah…royalti gw harus ditambah neh karena gw merangkap jadi pengirim salam-salaman juga. Eh lupa, kasih tau FM lo berapa yah yang bisa nyangkut disana biar ntar gw pantengin radio juga dari sini. Balik ke zaman purba” dan lagu How Deep is Your Love menutup rekaman dengan indah. Frey tahu, ada bunga-bunga bertebaran di hatinya kini. Rasanya ini sama seperti dia pertama kali bertemu Reza. Frey memejamkan kedua matanya lembut, menikmati dentingan gitar Arjuna namun jujur pikirannya melayang mencari dimana Reza sekarang. 
“Gw tahu ini saatnya gw jatuh cinta lagi Rez.  Lo bisa pergi sejenak kan dari pikiran gw.  Gw gak akan pernah melupakan semua kebersamaan indah kita Rez cuma gw ingin gak hanya menghabiskan waktu memikirkan keberadaan lo. Lo mau kan kasih gw kesempatan?” Frey berdamai dengan alamnya sendiri. Sepertinya Frey sudah lebih siap menjalankan tugasnya lagi, menikmati sisa harinya yang masih 10 bulan.
           
***

Chapter 9

CHAPTER 9

Frey menatap lelaki di hadapannya, mencoba memperbaiki raut muka dan posisi badannya agar tidak menyinggung lekaki bernama Poka tersebut.  Frey berpikir mungkin ini pasiennya namun gagal karena penjelasan orang tadi menandakan bahwa ini orang yang memang ditunjuk oleh kepala desa untuk membantunya.  Sengaja memang Frey meminta bantuan bapak kepala desa untuk menunjuk beberapa orang yang dianggap mampu membantu Frey mendata malaria.  Mereka biasanya menggunakan kata bapak desa dalam memanggil kepala desa yang mereka hormati.  Frey memberikan syarat yang mudah, hanya asal dapat membaca dan menulis itu sudah cukup dan ternyata tidak banyak yang dapat direkomendasikan oleh bapak desa.  Frey yang nanti akan melihat mereka dan menentukan kelayakannya.
Badannya tinggi untuk ukuran penduduk desa namun dari beberapa orang yang sudah ada di hadapan Frey, lelaki ini yang paling sedikit berbicara bahkan Frey tidak yakin lelaki ini mengerti apa yang dia jelaskan.  Wajahnya terlihat tolol dan sedikit pucat.  Entahlah, Frey merasa ada yang aneh dengan lelaki itu walaupun jujur Frey merasa berdosa telah menghakimi orang hanya dengan melihat wajahnya saja.  Toh bukan salah dia dianugerahi wajah yang terlihat seperti orang retardasi mental.  Frey mungkin berpikir untuk tidak merekrutnya sebagai karyawan jika tidak teringat perkataan bapak desa bahwa lelaki tadi dapat diandalkan. 
Kini kepala Frey sedikit berputar memutuskan siapa orang terakhir yang akan membantunya mendata malaria.  Sorot mata lelaki tadi masih mengusik Frey hingga akhirnya terdengar suara serak basah.
“Saya mengerti Ibu” hanya tiga kalimat itu yang diucapkan lelaki tadi namun mengandung berjuta makna bagi Frey.  Apa yang dimengerti oleh lelaki tadi, penjelasan Frey tentang tugas yang akan dilakukan mereka natinya atau mengerti jika Frey meragukan kemampuan lelaki tersebut.
“Mengerti apa Poka?” Frey memutuskan bertanya balik daripada otaknya dipenuhi spekulasi tidak karuan.
“Mengerti su dengan penjelasan kerja dari Ibu” kini giliran Frey yang memilih mendengarkan nasihat bapak desa dan lelaki itu pun menjadi karyawan terakhir yang Frey rekrut.
Sebelum lima belas penduduk lokal yang membantu Frey bekerja, terlebih dulu Frey memeriksa darah mereka.  Jangan sampai karyawannya ternyata malaria dan tidak diobati.  Hasilnya, hanya si Poka yang positif malaria falciparum.  Frey tersenyum, mungkin ini sebabnya wajah si Poka terlihat seperti orang bodoh lantaran parasit malaria di tubuhnya sudah lama tidak dihilangkan sampai membuat wajahnya berubah. 
Frey ingat ketika Poka dengan tergesa membawa istrinya ke klinik padahal hari masih siang.
“Kencing merah Ibu” begitu ucapnya.
“Sedang hamil kah?” Frey curiga ini bukan hanya sekadar kencing saja melainkan darah yang keluar dari tempat keluarnya bayi.  Sulit bagi orang awam karena memang terlihat sekilas seperti kencing darah.
“Dua bulan Ibu” jawab istrinya dan Frey segera membaringkan di tempat periksa.  Diambilnya sarung tangan steril dan perlahan membuka jalan lahir.  Ternyata memang masih terlihat tetesan darah namun belum terlihat tanda-tanda janin keluar.
“Mama, istrihat total di rumah dulu ya.  Mama hanya boleh berbaring saja dan tidak boleh turun dari tempat tidur.  Harus benar-benar istirahat” Frey menekankan kalimatnya karena kehamilan tersebut menurutnya masih dapat dipertahankan jika dilihat dari jumlah darah yang keluar masih sedikit.  Syaratnya hanya satu, istirahat total. 
Dua malam kemudian Poka kembali tergopoh-gopoh mendatangi Freya ketika dia sedang santai memetik gitarnya menghabiskan malam minggu.  Ketika di kota dulu Frey akan menghabiskan malam minggunya jalan bersama teman-teman atau sekadar nongkrong di café jika sedang tidak bertugas jaga.  Tidak jarang juga Frey dan Arjuna bertukar jaga dengan dokter lain agar keduanya dapat menghabiskan malam minggu walau kenyataannya sulit mencari dokter pengganti di malam minggu. Semua ingin menikmati waktu bersama keluarganya.
Berbeda dengan saat di pedalaman di mana tidak ada hiburan dan listrik sehingga malam minggu nyaris tidak jauh berbeda dengan malam-malam lainnya. Frey dan tim peneliti lebih senang menghabiskan waktu malam kami dengan ngobrol di teras rumah sederhana sambil bermain gitar atau sekadar berbagi pengalaman hidup.  Muka Poka sudah terlihat penuh ketika senter kecilnya memancarkan cahaya.
"Gawat Ibu….ini bahaya"
"Yah, ada apa dengan istri bapak?" Frey sudah menduga ini pasti istrinya.  Satu hari setelah istirahat total ternyata Poka mengabarkan tidak ada lagi darah yang keluar.
"Istri saya gawat..bahaya dokter…." terbata-bata Poka mengucapkannya dan tanpa menunggu dia selesai bicara, Frey sudah melesat mengambil tas punggungnya.  Tensimeter digital, stetoskop, termometer, dan beberapa obat sederhana segera dimasukkan dan tanpa hitungan menit Frey sudah menyusuri jalanan gelap menembus dusun Meheng Mata bersama Poka.  Bersyukur lampu kepala yang tidak pernah lepas dari kepala Frey masih menyala dan berguna sebagai penerang jalan.  Dusun kecil ini paling dekat keberadaannya dari klinik Frey, hanya 10 menit berjalan kaki saja dan kali ini dipercepat menjadi kurang dari 5 menit.
Tidak butuh lama untuk sampai di rumah alang milik Poka.  Rumah alang dengan balai-balai tinggi itu membuat Frey harus menaikkan kaki dengan cara mengangkatnya tinggi-tinggi atau meloncat setelah mengambil ancang-ancang.  Suara anjing yang menyalak karena kedatangan orang asing segera nyaring terdengar.  Entahlah, Frey tidak ingin bermasalah dengan anjing-anjing karena dia tidak ingin mengulangi trauma masa kecilnya lantaran digigit anjing.  Frey memilih memasuki balai rumah ketika si anjing menjauh namun kenyataannya si anjing mengikuti arah langkah Frey sambil mendengus tajam. 
“Cia…” Frey malah disibukkan dengan adegan menjauhkan anjing dari kakinya.  Beruntung Poka tanggap dan mengusir sementara si anjing.   Frey memang masih menyimpan ketakutan terhadap anjing, takut digigit dan bila berlari maka takut dikejar anjing yang nantinya berakhir dengan gigitan juga.
“Di mana mama?” Frey menanyakan keberadaan istri Poka yang dibalas dengan ajakan memasuki rumah alang.
Ini pertama kalinya Frey memasuki rumah alang yang dilihatnya sehari-hari.  Dirinya memang masih belum seumur jagung berada di tempat ini sehingga hanya berkeliling desa saja tanpa benar-benar pernah masuk ke rumah alang seperti mala mini.  Dari depan, rumah alang mereka terlihat kecil karena terdiri dari rumah bambu yang dibuat bertingkat dengan atap dari ilalang.  Namun ketika Frey masuk ke dalamnya, barulah terasa rumah alang ini cukup besar.  Frey harus naik ke batu pijakan sebelum memasuki rumah tersebut karena ukurannya cukup tinggi sampai dengan lututnya. Namun bagi penduduk desa terkadang tidak perlu pijakan lagi karena hanya dengan melompat saja mereka sudah masuk dalam tangga rumah.  Semua terbuat dari bambu termasuk tangga awal yang Frey pijak.  Bila dibandingkan rumah adat, kita bisa sebut tangga ini pijakan menuju ke teras.  Sebelum masuk rumah, Frey dapat melihat balai-balai tempat para Inya beristirahat sepulang dari kebun.  Dari teras itu, Frey harus menaiki tangga yang lebih ekstrim lagi karena hanya berupa bambu satu ruas yang dipasang seperti anak tangga dan cuma satu karena hanya butuh satu pijakan untuk benar-benar masuk ke dalam rumah. Menginjaknya saja sudah membuat aroma rasa penasaran Frey muncul, "bagaimana sebenarnya isi rumah ini yang dari kemarin hanya saya lihat dari jauh saja".
Aroma bambu mulai menyerobot masuk hidung, bertabrakan dengan aroma jelaga sisa asap kayu bakar yang baru saja mereka matikan.  Ternyata mereka baru saja selesai memasak untuk makan malam.  Ruangan selebar 3x7 meter membentang di hadapan Frey.  Tidak  terlalu kecil ternyata tapi memang juga tidak besar seperti rumah normal.  Tidak ada perabot apapun di ruang pertama yang terbesar itu.  Namun bila membalikkan badan melihat kembali atap di balai-balai teras, maka terlihat jelas sisa tulang babi yang dipajang.  Boleh dibayangkan seperti Frey melihat babi besar dan satu kepalanya sudah berubah menjadi tulang belulang dan itu dipajang, tanpa ditutup apapun.  Jumlah kepala babi yang dipajang itu menunjukkan pemilik rumah telah menggelar pesta entah pesta kematian, pesta tarik batu, kubur batu, maupun pesta lain yang memang wajib melakukan ritual tikam babi.  Bila rumah yang dimasukinya sedikit mampu menggelar pesta sangat besar maka tanduk kerbaulah yang terlihat. 
Frey berdecak kagum membayangkan pajangan tulang tersebut mirip dengan koleksi foto di luar negeri, koleksi ratusan guci atau bahka piring antik bagi orang di kota besar.  Awalnya Frey merasa ragu untuk menginjakkan kaki dengan mantap di ruang tamu tersebut karena khawatir rumah alang yang hanya terbuat dari gabungan bambu yang diikat tali rotan ini tidak mampu menyangga beban tubuhnya.  Namun ternyata Frey salah, injakan mantap dan juga sedikit menggoyangkan badan dapat diterima rumah ini dengan aman.  Frey membelokkan badan ke kiri dan ada ruangan kecil seperti di sekat berukuran seperti tempat tidur.  Frey mencari di mana kasur atau tempat tidur mereka namun belum sempat menanyakan hal tersebut, mata Frey sudah menangkap alas anyaman tikar di samping tempat sekat tadi. Mereka benar-benar tidur hanya beralaskan tikar super tipis tersebut.  Padahal di sepanjang jalan banyak pohon kapas yang sudah berguguran kapas putihnya memenuhi rerumputan di bawahnya.  Mengapa mereka tidak mengambil kapas tersebut dan dijadikan tempat tidur atau sekadar bantal, pikir Frey dan terjawab kemudian karena sebagian dari mereka sudah tidak punya waktu lagi untuk membuat seperti itu. Mereka lebih memilih untuk tidur di alas tikar saja.
Frey tinggalkan tempat tidur sederhana itu untuk memasuki bagian kedua rumah yaitu dapur.  Jangan dibayangkan dapur mereka ada di luar rumah tingkat ini karena ternyata dapur mereka benar-benar ada di dalam rumah alas bambu.  Awalnya Frey tidak percaya karena akal sehatnya masih membayangkan rumah ini dapat saja terbakar setiap kali memasak.  Namun ketika makin mendekat dan menyentuh tunggu arang mereka yang hanya berupa dua buah batu bata disusun berhadapan, Frey mengerti.  Di rumah bambu itu mereka menambahkan dengan tanah setinggi sekitar 5 cm namun Frey tidak dapat melihat begitu jelas lantaran cahaya lampu kepalanya mulai memudar.  Setelah heran melihat tungku sederhana mereka, Frey kembali dikejutkan karena ada jala besi khusus satu meter di atas tungku berisi bongkahan daging kerbau yang mereka dapat dari pesta.  Daging itu masih teronggok untuk dikeringkan dan dibuat dendeng. Sengaja mereka membuat tempat meletakkan daging di atas tungku supaya dapat terkena asap tungku dan daging menjadi lebih awet.  Nafsu makan Frey hilang seketika membayangkan dirinya disuguhi daging seenak apa pun dari tungku tersebut. 
Di sebelah dapur ternyata masih ada satu ruang yang disekat dan dijadikan kamar.  Di kamar itulah terbaring istri Poka yang terus-terusan memegangi perutnya.  Frey segera menanyakan apakah ada terasa keluar darah lagi dalam sehari ini dan dijawab dengan gelengan kepala.  Frey mengeluarkan peralatannya untuk memeriksa tekanan darah dan juga suhu badan istri Poka.  Ternyata setelah dia tidak lagi mengeluarkan darah, dia kembali ke kebun untuk bekerja. Setelahnya, dia pulang dan melanjutkan tugasnya membuat kain tenun.  Frey gemas karena di tempat ini wanita bekerja lebih keras dibandingkan lelaki yang hanya duduk di rumah saja.  Bahkan dalam keadaan hamil sekali pun.  Pembagian makanan pun suami sebagai kepala rumah tangga harus mendapatkan jatah paling besar karena tugasnya yang berat dan status sosilanya yang tinggi sementara anak-anak dan ibu hamil yang membutuhkan gizi harus menunggu giliran makan ala kadarnya dulu.
Frey mengeluarkan sarung tangan sterilnya dan dengan berbekal lampu memeriksa jalan lahir istri Poka.  Darah mulai terlihat menetes pertanda mulai terjadi lagi pembukaan rahim.  Frey pun segera memberikan obat penghilang rasa sakit.
“Segera kita bawa ke puskesmas bapak.  Disana ada alat untuk kuret.  Sepertinya kehamilan mama sudah tidak dapat dipertahankan lagi karena terlalu banyak bekerja” dan tidak lama mereka sudah berada di motor.  Dua motor di klinik Frey digunakan seluruhnya, Frey bersama perawat dan istri Poka bersama kakaknya. 
“Eh kenapa tidak ikut sudah Bapak” Frey bingung karena harusnya Poka yang berada di belakang menemani istrinya, menjaganya agar tidak jatuh. 
“Eh biar sudah dia.  Kan dia kakaknya”
“Lah…kan bapak suaminya” kali ini Frey tidak habis pikir mengapa obat malaria yang diminum si Poka masih tetap membuatnya bodoh malam ini.  Frey pun segera menjalankan motornya agar tidak membuang waktu.  Dia sudah menghubungi rekanan dokternya yang berada di puskesmas dengan peralatan lebih lengkap dan juga sudah tersentuh listrik. 
Mengantarkan pasien menembus malam ternyata dapat juga dinikmati sebagai hiburan di malam minggu.  Langit malam tampak cerah dan ribuan bintang menghiasinya.  Rasanya Frey menembus hutan dengan pemandangan langit luar biasa di waktu malam.  Pikiran Frey melayang bagaimana cara menghitung bintang sebanyak itu di langit atau malah menemukan bintang baru di antara ribuan bintang.  Hingga bintang jatuh muncul ketika wajahnya sedang menengadah ke langit.  Reza…seketika itu banyangan Reza muncul di kepala Frey.  Bahkan ketika dirinya memilih untuk melupakan semua kenangan bersama Reza, bayangan itu terus mengikutinya.  Kenapa Reza yang muncul di kala bintang jatuh dan bukan Arjuna yang mendamaikan tempatnya di pedalaman kini.
Ngenggg…….suara motor membuat Frey terkejut, bintang jatuh sudah berlalu dan kini tampak si Poka menyusul istrinya bersama motor lain.  Bahkan tidak dengan tangan kosong, satu buntelan dalam plastik hitam berada di tangannya.  Bagaikan pahlawan, si Poka meluncur berada di samping motor istrinya.  Frey nyaris tidak dapat menyembunyikan tawanya.  Cara mengungkapkan rasa sayang ternyata bermacam-macam dan Frey berharap bungkusan di tangan si Poka tidak salah isinya. 
“Pak Poka….kenapa malah bawa baju bapak” dan teriakan itu membuat si Poka bermuka bodoh lagi.  Sepertinya memang bukan efek malaria, mungkin memang begitu sudah cara Poka membuat kami tertawa.
*** 

Chapter 8

CHAPTER 8


“Ibu Dokter…Pak Paulus kena gigit ular” lelaki muda tadi membawa berita buruk. Dokter Frey segera bangkit dari kursinya dan beberapa pasien yang belum diperiksanya dia titipkan ke perawatnya sementara.  Tangannya terampil mengambil beberapa peralatan yang dia butuhkan an memasukkannya dalam tas ransel kesayanganya.
“Dimana dia. Mari kesana su” tidak butuh waktu lama dokter Frey sudah menaiki motor klinik bersama lelaki muda bernama Yosep tadi.
“Kenapa tidak kau bawa sekalian kemari tadi?”
Su tidak dapat berjalan ibu. Dia tidak mau juga ibu. Su dari kamaren dulu dia kena gigit ular sampai tiga kali tapi tidak pernah mau ke klinik.  Saya su ajak tetap tidak mau. Dia bilang su  pakai obat dukun” penjelasan Yosep membuat Frey sedikit kesal. 
Kemarin dulu menjadi dua kata yang tidak terlalu Frey sukai karena hampir semua masyarakat desa menggunakannya jika ditanya kapan mulai sakit. Artinya dua hari yang lalu tapi Frey sendiri tidak terlalu yakin.  Secerdas apapun pertanyaan Frey menggali riwayat sakit pasiennya, tetap saja mereka menjawab kemarin dulu.
“Bagaimana dia punya luka sekarang?” Freya mengalah menahan kesabarannya.
“Itu dia ibu.  Bengkaknya su sampai paha baru dia kesakitan minta ibu periksa saat kakinya su tidak dapat berjalan” Frey kembali menahan emosinya. Ini entah sudah kali keberapanya orang desa lebih memilih dukun mulai dari dukun  beranak, dukun urut, sampai dukun lainnya untuk mengobati sakit mereka dan baru benar-benar datang ke dokter ketika kondisinya sudah parah.
What a fuck” terkadang Frey memilih serapah dalam bahasa lain yang tidak dimengerti penduduk. Jika sudah memuncak, Frey malah mengeluarkan aksen German secara alam bawah sadarnya. Sebenarnya dia sudah mempelajari beberapa kosa kata asli sana baik kosakata serapah maupun kosakata sapaan. Tetapi menurutnya serapah dalam bahasa asli sana lebih kasar jika diartikan sehingga Frey memilih kosa kata lain saja bila memang harus berserapah.
“Obat apa yang dikasih dukun memangnya?”
“Pelepah kulit kerbau yang dibakar ibu. Setelah panas sekali baru ditempel ke bekas luka gigit ular” Frey hanya mengangguk sembari membayangkan pelepah kerbau panas itu memang menyebabkan vasodilatasi sehingga mengurangi bengkak tapi jika terlalu panas malah dapat melepuhkan kulit. Sudahlah, mereka punya cara sendiri untuk selamat.
“Diikat tidak?”
“Ah tidak juga ibu, dibiarkan saja dan diulang lagi bila sudah dingin kulit kerbaunya”
“Ah pantas saja racun ularnya menyebar karena dia tidak mengikat erat telapak kakinya yang digigit ular”
“Oh begitu ibu. Pantas su dong sekarng tidak bisa berjalan”
Butuh waktu setengah jam mengendarai motor untuk menembus jejak tanah yang sudah mulai basah karena guyuran hujan.  Bahkan beberapa di antaranya sudah menjadi kubangan lumpur sehingga perlu keseimbangan kuat saat melewatinya dengan motor.  Tidak jarang Frey memilih berjalan kaki jika dirasakan kilatan licin sang lumpur dapat menggelincirkan motornya.
Berbeda dengan jalanan aspal yang ada di depan kliniknya, jalanan kali ini murni beralaskan tanah dan terkadang harus menembus ilalang hutan. Pantas saja banyak ular jika daerahnya masih dipenuhi tetumbuhan rimba.  Berdasarkan pengetahuan Frey, tidak ada ular mematikan di wilayah ini, namun tetap saja penanganan gigitan ular harus cepat untuk mengurangi penyebaran racunnya.
“Sebentar sampai Ibu” ujar Yosep ketika pintu gerbang perkampungan kecil itu sudah mulai terlihat dari kejauhan.  Memang bukan pintu gerbang dari besi atau kayu mewah melainkan hanya tumpukan batu besar saja di kanan kiri dengan bambu panjang yang diberi anyaman kain di ujungnya.
Memasuki perkampungan kecil itu seperti dibawa ke masa zaman batu dimana penduduknya maish sangat primitif.  Beruntung Frey tidak harus bertemu dengan penduduk yang tinggal di rumah pohon karena mereka semua sudah tinggal di rumah alang yang menapak tanah. Walau demikian tetap saja rumah yang dibuat selalu lebih tinggi satu hingga dua metter di atas tanah. Pasalnya bagian bawah rumah  akan dijadikan tempat memelihara hewan ternah mereka. Babi, kuda, kerbau, ayam bahkan juga memelihara nyamuk malaria.
Hanya ada sepuluh rumah alang di perkampungan ini dan termasuk besar karena terkadang kampung yang lebih kecil hanya dihuni setengahnya saja.  Tidak sulit bagi penduduk untuk tahu kedatangan dokter Frey. Mereka berkumpul secara otomatis tanpa dikomando, mengikuti kemana langkah kaki Frey. Apalagi anak-aak kecilnya karena memang Frey dikenal sebagai dokter bon-bon. Pasalnya, setiap kali bertmu anak kecil selalu saja Frey memberikan permen gula-gula manis sebagai hadiah.  Menghisap hal manis, cara itu memag ampuh untuk menghentikan tangis atau teriakan aak-anak yang lukanya dijahit dokter Frey.  Cara ampuh juga untuk menghilangkan kesedihan mereka akan kondisi yang selama ini menimpa mereka, hidup dalam kemiskinan yang berkelanjutan.  Walau terkadang Frey mengakui anak-anak di tempatnya ini lebih kuat dan jarang menangis.
Lelaki yang dibicarakan sudah terlihat duduk di beranda, tidak sulit untuk menemukannya.
“Hallo bapak. Bagaimana kabar kah gigitan ularnya? Katanya su tiga kali ya” dan lelaki yang dimaksud hanya mengangguk sembari memegang pangkal paha kirinya yang kesakitan.  Selanjutnya si lelaki sudah bercerita bangga kepiawaiannya menghadapai ular dengan jurus genggamannya bahkan menginjak tubuh sang ular. Sayangnya gagal karena ternyata si ular lebih hebat dan menggigitnya tiga kali. Tapi tetap saja cerita lelaki tadi yang diiringi bahasa Indonesia sesekali membuat warga yang berkumpul tertawa, lengkingan tawa yang khas menurut Frey karena seumur hidup belum pernah dia temukan jenis tawa yang menggelikan seperti ini. Bahkan jika tidak sedang tertawa pun kita akan terpancing untuk tertawa bila mendengar tawa mereka.
Frey segera memeriksa bekas gigitan ular yang sudah nyaris tidak terlihat lagi karena tiga hari membuat luka kecilnya sama dengan permukaan kaki lainnya.  Tinggal bekasnya saja dengan bengkak yang masih nyata, membuat kaki hitam itu terlihat gabungan warna merah dan hitam. Dipegangnya daerah bekas gigitan hingga ke pangkal paha untuk mengetahui penyebaran racun si ular.  Pantas saja paha kirinya sulit digerakkan karena memang bengkak sudah menajlar hingga di tempat tersebut.
“Awww…sakit ibu…” teriak lelaki tadi ketika Frey menekan bengkak di pangkal pahanya dengan tiba-tiba.
“Besok lagi kalau kena gigit ular, langsung ikat su dengan apa saja tidak jauh dari bekas gigitannya supaya racunnya tidak menyebar” ucapan Frey langsung diartikan dalam oleh Yosep yang menemaninya.
“Setelah itu segera bawa ke klinik.  Bapak masih bersyukur karena racun ularnya tidak terlalu kuat. Masih bagus merasakan nyeri seperti itu”
“Au…”teriak lelaki tadi lagi.
Karena kalau sudah tidak merasakan apa-apa nanti bahaya lama-lama.  Luka gigit ularnya dapat menghitam dan MATI. Akhirnya kaki bapak bisa dipotong. Mau su tidak punya kaki?” Frey mencotohkan adegan memotong kaki si lelaki sementara di dalam rumah tampak sepasang mata mengamati setiap detail yang Frey lakukan walau dia tidak sepenuhnya mengerti arti ucapan Frey bila tidak diiartikan oleh Yosep.  Tangan kecil itu mengintip dari celah bambu rumah si lelaki, dia terlalu malu untuk menampakkan badannya yang kumuh di hadapan Frey. Sementara ingus menggelantung di hidungnya namun matanya tidak lepas dari bayangan Frey.
Frey tidak tahu di kemudian hari, lelaki kecilnya itulah yang akan digandengnya menjadi kurcaci ke tujuh, melengkapi dongeng biadadari dan tujuh kurcaci.
***

Chapter 7

CHAPTER 7

Dari Gw
Di Pedalaman
Saat Bulan Pertama Berakhir

Untuk Lo: My JUN
Hi Jun…
Sebelumnya gak perlu Ge-Er kenapa surat ini gw tulis buat lo. Pertama, gw pengen kirim ke Mas bambang tapi gw gak yakin dia punya waktu lebih untuk baca surat gw. Bisa jadi ntar surat gw dikira sampah deh ama sekretarisnya dan gak pernah sampai ke tangan dia. Kedua, tadinya gw pengen kirim surat ini ke mama tapi kayaknya mama bakal nangis kangen deh dan bisa aja malahan ngejemput gw pulang. So, akhirnya lo jadi tujuan terakhir surat ini. Gw yakin lo jejingkrakan seneng kan terima surat pertama gw ini. Awas lo kalau boong hidung lo panjang kayak Pinokio.
Lo bener Jun, gw memang gak biasa dengan semua yang ada di sini, tanpa listrik, tanpa air dan yang terpenting tanpa sinyal.  Peralatan elektronik yang gw bawa harus rela pulang pergi dibawa supir kantor ke kota kalau beterainya habis. Dan yang paling aneh dari semua ini adalah surat ini Jun.  Hadoooh…kebayang gak sih Jun udah zaman modern bin canggih, gw harus ngirim surat pakai tinta gini, persis kayak pelajaran mengarang zaman gw SD.  Maklumlah Jun, ini masih bulan pertama dan kerjaan gw di sini lebih sibuk daripada kerjaan di RS kita sekali pun. Gw belum bisa ninggalin tempat gw ini bahkan untuk ke kota. Bersyukur deh gw udah bawa semua bekal yang pernah lo ketawain ampe guling-guling di tanah dulu.
Gw harus bangun sebelum matahari nongol buat timba air dulu dan masih pakai acara gotong tuh air sendirian buat ngisi bak mandi gw. Butuh 10 kali angkat ember besar kalau mau mandi dengan enak.  Sompret!!! Awalnya gw ogah tapi kalau gak gini gw gak mandi dan keadaan super panas disini tanpa mandi bisa bikin gw mati. Hadoh gak kebayang deh di neraka ntar panasnya gimana.  Upacara timba air ini juga wajib gw lakuin pas sore sebagai bekal kalau gw dapat panggilan alam pas malam.  Gw gak tega ngebayangin pakai WC kehutanan alias pup di hutan belakang klinik gw dan ngebersihin cuma pakai dedaunan kayak kebiasaan penduduk disini. Ogah!!!
Habis upacara timba air gw masih harus nyalain kompor minyak untuk masak air, nasi dan makanan siap saji yang gw punya.  Kagak ada kompor gas karena memang gak ada yang jual gas di pulau ini. Gw bersyukur kagak pakai tungku kayu kayak penduduk sekitar. Gak tau dah kalau gw masih harus cari kayu bakar di hutan yang pakai upacara tiup sebelum tuh kayu bakar menyala.  Kayaknya muka gw belepotan asap kayu bakar dah.
Kadang rutinitas pagi belum  kelar, pasien udah lebih dulu ngumpul di halaman klinik gw kayak pasar senggol.  Mereka rebutan pengen dicek darahnya untuk tahu ada malaria atau kagak Jun.  Batuk, pilek, dan semua penyakit kumpul jadi satu dan mereka paling seneng diagnosis malaria.  Bahkan herannya sakit yang bukan malaria aja mintanya dibilang kena malaria.  Sakit kepala mereka bilag malaria otak.  Sakit perut bilangnya malaria perut. Bahkan hidung berdarah kena tonjok orang aja bilangnya malaria hidung. 
Gw pun mulai seleksi mereka walau gak gampang screening malaria di daerah endemis kayak gini. Semua teori yang masih kita terapin zaman praktek di RS dulu sepertinya harus rela gw obrak abrik karena jarang banget gw nemuin pasien yang datang ke  gw dengan trias malaria. Panas tinggi, menggigil dan keringat.  Jadi akhirnya gw pakai intuisi gw untuk menilai raut wajah pasien. Kebanyakan yang malaria akan terlihat lebih pucat dengan beberapa ciri klinis suhunya lebih dari 37,5 derajat dan splenomegali. But, it’s still difficult Jun apalagi untuk anak-anak karena batuk pilek bikin rancu penyebab panas mereka dan infeksi cacing bikin perut mereka buncit semua.  Nyaris sulit membedakan splenomegali ama perut buncit mereka.  Tapi gw seneng sih lama-lama intuisi gw memang terasah di bidang ini.  Gw masih harus Om Jiyo, analis laboratorium yang ngecek slide malaria kelar bikin apusan dan membaca hasilnya di bawah mikroskop.  Rasanya deg-deg-an nunggu hasil tiap pasien yang gw curigai malaria. Dan ketika hasil slide darah mereka keluar baru deh gw bisa ngasih terapi yang sesuai dengan jenis malaria mereka.  Hadooh, rasanya hidup gw sekarang jadi berkutat ama nyamuk-pasien-dan obat malaria.
Tapi Jun, sebulan pertama ini klinik gw malah lebih mirip kayak puskesmas kebanyakan. Pasien dari desa lain mulai banyak kemari, gw rasa seh karena penasaran aja kali ya ada dokter baru.  Naroh pantat di kasur aja jadi barang langka sekarang, mirip kayak hari-hari pertama kita jaga RS dulu deh. Super tepar.
Puncaknya dua hari yang lalu Jun saat gw masih main gitar ditemanin nyala lilin. Yup…yang bisa gw lakukan setiap malam untuk membunuh waktu adalah bermain gitar, mendendangkan lagu dan berbagi cerita.  Kalau lagi beruntung gw bisa nglihat ribuan bintang di langit hitam tanpa penghalang apapun, indah banget Jun. Cuma gw belum pernah menikmati ini semua dari pasir putih pantai karena gw masih takut nyamuk malarianya di sana, walau gw udah tahu obatnya sekali pun.  Entahlah, terkadang gw pengen ngrasain gimana malaria itu tapi gak jarang gw takut digigit tuh nyamuk.
Nah dua hari yang lalu serombongan orang naik motor dateng ke klinik gw, lama-lama jumlahnya makin banyak seperti lautan massa. Ternyata ada truk pengantar orang pesta adat yang terguling dekat pasir pantai.  Satuanak dibawa masuk dengan luka kepala yang parah.  Saat itu hanya ada gw ditemani dua perawat wanita dan satu penjaga laki-laki.  Gw bukan panik Jun tapi histeris lebih tepatnya karena dihadapkan kasus dengan peralatan ala kadarnya bahkan tanpa listrik.  Anak itu mengalami robekan kepala cukup besar sampai tulang kepalanya terlihat dan datang tepat tengah malam.  Bersyukur dia masih dalam keadaan sadar dan tidak ada muntah atau pun menggigau tapi pasir menyelimuti sekujur tubuhnya.  Untung saja sore tadi gw nimba Jun sehingga masih ada air di bak dan langsung gw siram buat bersihin agar pasir hilang.  Setelahnya gw ambil silet, lo tau kebiasaan gw bawa barang aneh kan. Gw bersyukur masih bawa cadangan silet karena gak ada pisau bedah di sini.  Gak ada waktu buat sterilisasi minor set lainnya dan terpaksa gw pakai sterilisasi alkohol yang paling sederhana.  Lukanya kotor banget Jun bahkan supaya lebih mudah bersihin luka maka gw bikin botak separoh tuh kepala si anak.  Sepuluh senti panjang lukanya dan bikin kulit kepalanya menggelambir seperti terlepas. Inya-inya dan orang kampung yang ngantar langsung teriak dan menangis meraung-raung saja. Gw sempet frustasi Jun karena menyuruh mereka diam tidak akan berhasil.  Belum selesai gw membersihkan luka di kepala, dua anak lainnya dibawa masuk dengan luka di wajah dan kaki.  Sekilas segera gw cek lukanya dan menilai derajat keparahannya. Syukurlah hanya lecet dan gak ada fraktur.  Gw langsung kembali ke si anak dengan luka kepala sementara perawat gw tangani dua anak lainnya.  Sulit banget bersihkan pasir lalu menjahit lukanya sebelum merujuk ke rumah sakit yang dua jam jaraknya.  Rasanya kesel banget melakukan kerja yang tidak didukung peralatan maksimal karena saat itu gw hanya bisa ngandelin lampu kepala dan senter aja.  Penduduk yang gw suruh pegang lampu juga gak focus. Oh rasanya gw pengen lo ada di sini kemaren dan nolongin gw. 
GILA, gw rasa ini tindakan hecting tergila yang pernah gw alami.  Keringat jagung bukan cuma netes di dahi gw tapi juga bikin seluruh badan gw basah kuyup.  Hecting yang gw lakuin bisa aja bikin luka kepalanya tambah parah bahkan berdarah-darah tapi kalau gak gw lakuin ini maka tetap darah mengucur juga.  Akhirnya gw memilih menjahit luka dengan peralatan sederhana dan gw bersihkan luka sesteril biar gak infeksi sekunder. 
Hampir kelar gw hecting, beberapa pasien dewasa yang ikut tertimbun baru berdatangan.  Dua bapak tua dan satu mama.  Napasnya sudah satu-satu, mungkin karena mereka terkejut musibah dadakan ini.  Gw lalu beralih periksa kesadaran mereka dan keadaan fisiknya.  Untung tensi dan nadi mereka masih normal dan hanya luka luar saja.  Akhirnya kelar juga urusan semua pasien dan gw sedikit bernapas lega.  Tapi ada masalah baru, ruang tamu gw banjir darah dan pasir.  Semua pasien ini tidak sempat masuk ke ruang periksa karena tidak cukup menampung seluruhnya.  Akhirnya mereka dilayani di ruang utama dan hasilnya nyaris tidak ada lantai di ruangan ini yang lepas dari pasir dan darah. Gw bareng tim terpaksa timba air berkali-kali untuk bersihkan ruangan sementara masyarakat yang ada hanya nonton atraksi gw tanpa ada yang berinisiatif membantu even cuma basa-basi sekali pun.  Bahkan gw sampai meminta pemuda yang sehat dan cuma pengantar atau malah lebih tepatnya penonton untuk timba air dan tidak ada yang tergerak sedikit pun.  Anggap aja mungkin mereka gak ngerti bahasa gw.
Gw gak kesel Jun walau kedatangan mereka yang darurat itu gak gw tarik duit seperser pun.  Gw gak minta mereka bilang terima kasih juga. Gw hanya gondok ke diri gw sendiri kenapa keikhlasan gw justru hilang dikala gw sudah memberikan pertolongan terbaik untuk menyelamatkan nyawa mereka namun gw gak mendapatkan timbal balik sedikit pun. Itu yang bikin gw kesel Jun ke diri gw sendiri Jun.  Cuma segini aja kesabaran dan keikhlasan yang gw punya.
Besoknya baru gw tahu kalau si anak yang luka kepala dibawa ke rumah sakit saat siang dan bukan dari malam tadi.  Mereka bilang tidak ada kendaraan dan gw gak bisa marah karena sulit untuk orang disini benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan dokter walau itu untuk keselamatan mereka sendiri.  Akses kendaraan dan uang juga bikin mereka berpikir ulang jika mau ke rumah sakit. Tapi gw bersyukur hingga siang informasi yang gw dapat tentang si anak sudah membaik dan tidak ada tanda-tanda lucid interval yang gw takutin.
Jun, gw rasa gw harus menambah stok kesabaran di sini. Kalau orang bilang kesabaran itu tidak ada batasnya, menurut gw kesabaran itu harus ditambah batasnya supaya dia tidak pernah habis.  Gimana menurut lo Jun? Semoga keadaan lo di rumah sakit tidak harus membutuhkan tambahan kesabaran kayak gw ya.

PS: Gw lampirin surat buat mama juga Jun.  Gak tega gw bikin mama kangen. Sering-Sering tengokin mama ya J
***